Apakah ini sebuah kesombongan,
tatkala kita merasa bersalah atas ketidakberuntungan orang lain?
Atau saya ini orang yang kufur
nikmat?
Naudzubillahi min dzalik.
Sedihnya hati saya, mendengar
cerita seorang istri, seorang ibu, yang bekerja melebihi kemampuan keringkihan
tubuhnya tapi masih tetap berharap bisa memperpanjang waktu menjadi lebih dari
24 jam sehari hanya supaya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja lagi.
Sementara saya bisa saja menunda
pekerjaan karena merasa punya lebih banyak waktu. Sungguh saya orang yang
merugi.
Hancurnya hati saya, mendengar
kesedihan seorang istri, seorang ibu, yang merasa sendiri menghadapi dunia yang
sungguh material ini.
Ya benar, kami perempuan, memang
materialistis. Sebab belum lagi habis bulan, kami sudah membuat perhitungan
untuk bulan-bulan berikutnya. Percayalah, wanita menghitung berapa banyak yang
dihabiskannya untuk membeli bahan makanan untuk keluarganya hari ini. Seberapa
sering laki-laki bertanya berapa banyak uang yang dihabiskan saat melihat makanan
terhidang untuknya di meja makan? Saya yakin mereka lebih sering bertanya,
kenapa tidak ada makanan yang terhidang hari ini?
Saya menangis diam-diam,
mendengarnya bercerita rela bekerja di tempat yang saya pun tak menyangkanya.
Bukan, bukan pekerjaan yang tidak halal. Tapi berbanding terbalik dengan
pekerjaan utamanya. Don’t get me wrong, saya tak mengecilkan apapun pekerjaannya.
Saya justru mengagumi kegigihannya. Toh hidup ini tak bisa makan gengsi. Demi
keluarganya, bukan demi siapa-siapa.
Masygul rasanya melihat sang
kepala rumah tangga tak cukup keras berusaha sepertinya. Apalagi hanya mampu
berkata, “Aku tak memintamu untuk bekerja seperti itu”. Padahal perempuan itu
mau hanya supaya ia bisa mencukupi keluarganya dan supaya sang lelaki bisa lebih
berusaha. “Lihat aku, tak malu bekerja
kasar demi kita. Apapun kulakukan demi kita, asal halal. Kerjakanlah bagianmu.
Sebab mestinya, paling tidak, kaupun harus berusaha sekeras aku.”
Berdoa saja tak cukup, Tuhanmu
juga memintamu pergi ke luar untuk berusaha. Pekerjaan bisa kau temukan di luar
sana, bukan cuma dengan menelusuri layar komputermu. Sadar tidak, keadaan sudah
genting? Ya, genting! Dan kau masih saja duduk menunggu sambil merasa bahwa kau
telah cukup berusaha? Kalau merasa sudah cukup berusaha, tunjukkan mana
hasilnya!
Sadar tidak, your family is
falling apart!
Jangan bilang kami perempuan tak
pandai bersyukur. Justru karena kami bersyukur kami jadi berusaha lebih keras. Tak
apa kami lelah, asal orang-orang yang kami sayangi bisa hidup lebih baik.
Kebahagiaan seorang perempuan
adalah ketika menyaksikan orang-orang yang dikasihinya bahagia tanpa diselipi
kecemasan akan masa datang.
Verily, after hardship comes ease. La
Tahzan!
~What I see from where I stand~
(Astaghfirullah)
No comments:
Post a Comment