Monday, January 21, 2013

Weekend Getaway - Bangkok 11-14 January 2013 (Part 2.1)


Day 2 - Saturday, 12 January 2013


~JJ Market Trip~

Good Morning..

It’s vacation day 2 at Bangkok, a lazy Saturday. Jam 5 pagi waktu Bangkok kami sudah terbangun mendengar bunyi adzan subuh. Sehabis sholat saya kembali merangkak ke tempat tidur. Suami saya mengeluh lapar, sejak semalam katanya malah J.. Saya baru ingat dari Bali kemarin saya membawa sebatang coklat, jadi saya ambilkan untuknya sekedar mengganjal perut saja. Kemudian saya menuang air mineral dalam botol ke teko berpemanas untuk membuatkannya teh manis. Waktu belum lagi jam setengah enam pagi, jadi saya kembali meringkuk di tempat tidur. Suami saya malah sibuk mondar-mandir lalu mendekati jendela dan membuka tirainya. Di luar masih gelap. Suami mematikan lampu kamar sehingga kamar juga menjadi gelap. Naik ke tempat tidur ia malah mengajak saya mengobrol. Jadilah di pagi buta kami mengobrol, sesekali kami mencari posisi dari tempat tidur untuk memotret gedung-gedung bertingkat yang terlihat dari jendela kamar.
Fajar di Bangkok
Mau mandi masih malas rasanya. Suami saya yang bersemangat pagi ini malah menyuruh saya siap-siap untuk bersama pergi ke restoran. Dengan malas akhirnya saya bangun juga menuju kamar mandi untuk cuci muka. Masih mengenakan piyama, saya lalu meraih cardigan hitam panjang dari dalam lemari, memakainya, sejurus kemudian mengambil kerudung yang tergantung dan melilitkannya ke leher. Suami saya sudah siap berganti dengan celana jeans tetapi masih memakai atasan piyama batiknya. Jam 6.15 am kami berjalan menuju lift, memencet tombol angka 8 menuju restoran hotel. Di lift kami malah sempat berfoto-foto hehehe…
Sibuk update status :P

Seorang pegawai wanita mengucap salam begitu kami memasuki restoran dan bertanya nomor kamar kami. Setelah mencatatnya ia lalu menggiring kami ke meja dengan dua kursi di seberang ruangan persis di sebelah jendela kaca besar. Kami pikir kami terlalu pagi, rupanya ada dua pasang tamu hotel yang sudah duluan datang sebelum kami. Ternyata bukan cuma kami saja yang kelaparan J..
Ini dia tampang orang yang kelaparan dari semalam :D

Waktu browsing hotel di internet, selain harga dan lokasi, ada beberapa hal lain yang membuat kami memilih hotel ini. Selain bangunannya baru , saya juga sempat melihat foto restorannya yang menampilkan display makanan pagi dan terlihat lumayan, jadilah kami semakin sreg dengan hotel Ibis Siam Bangkok ini. Sebab tahun 2011 lalu saat kami pertama ke Bangkok, kami menginap di sebuah hotel All Seasons di dekat stasiun BTS Sanam Pao dan mendapati kamarnya sangat kecil dan makanan pagi yang disajikan tak menggugah selera (sekarang hotel yang kami inapi itu telah berganti nama dan juga meng-up grade levelnya). Oia, sebenenarnya voucher hotel yang kami beli melalui AirAsiaGo.com ini tak termasuk makan pagi, jadi kami membayarnya tersendiri. Harganya reasonable juga kok, total kami membayar THB 998.68 untuk 2 orang, 2 kali makan pagi. Jadi kalau di rupiahkan harga per orang satu kali makan kira-kira IDR 83,000. Mau tahu menunya seperti apa untuk melihat harga tersebut mahal atau murah? Walau mungkin tak mewakili keseluruhan menu yang disajikan pada saat breakfast sebab sangat variatif, silakan lihat foto-foto sebagian menunya di bawah ini.

Cheeses, crackers n grapes..

Spicy Chicken Bologna

Cereal with Pine nuts, almond flakes, raisins, cashew nut

Dressing salad


Sweeger..

Toast, butter & jams

Grilled tomato

Fruits in Thai always taste better I guess..

Sejam kemudian kami sudah kembali ke kamar. Hari masih terlalu pagi untuk jalan-jalan. Jadi lagi-lagi saya meringkuk di tempat tidur. Suami saya langsung ngomel, katanya liburan kok males-malesan hahaha…jadi habis goler-goler malas, setengah jam kemudian saya akhirnya bangkit untuk siap-siap. Baju yang akan kami pakai sudah siap, ransel yang akan kami bawa untuk jalan-jalan nanti juga sudah keluar dari koper. Sekarang tinggal mandi. Suami saya duluan mandi, lalu saya menyusul setelahnya.
Sebelum mandi pamer hasil kerokan semalem :D
Nungguin istrinya selesai dandan :D

Jam setengah sepuluh kurang kami sudah siap. Tapi karena hendak menukar uang terlebih dahulu ke MBK kami masih duduk-duduk saja di kamar sambil nonton TV, sebab MBK baru buka pukul 10 pagi. Pagi ini kami baru ngeh kalau di dekat hotel ada 7Eleven. Saking kecilnya jadi tak terlihat oleh kami kemarin dan bagian depannya terlihat agak kumuh sebab ada beberapa penjual makanan yang menggelar dagangan di depannya. Kami akhirnya mampir untuk membeli air kemasan untuk bekal nanti sebab Bangkok sedang musim panas sekarang.

Waktu kami hendak naik tangga penyeberangan, seorang supir tuktuk yang stand by di sekitar jembatan menyapa kami sambil berkata “Mall is not open yet”. Kami hanya tertawa mendengarnya. Saya melirik jam, masih 15 menit lagi menuju pukul 10, tapi kami tetap naik mendaki tangga. Di atas, instead of lurus menuju MBK, kami berbelok ke kanan menuju arah BTS National Stadium untuk mengecek jalur kami menuju Chatuchak Weekend Market atau biasa disebut JJ Market ini.  Lalu kami menuju loket penukaran koin yang sudah buka untuk membeli tiket sekali jalan kami menuju BTS Mochit, tempat kami turun nanti. Ongkosnya cukup murah THB 70 untuk berdua sekali jalan. Setelah menukar uang koin, kami segera menuju mesin tiket otomatis, ,memencet tombol harga tiket lalu memasukkan koin sampai tiket yang berbentuk kartu keluar. Lalu mengulangnya sekali lagi untuk tiket ke dua.

Peta jalur BTS SkyTrain

Di jalur masuk stasiun tadi rupanya ada sebuah Money Changer, seorang wanita sudah stand by di belakang loket kaca, tapi tanda "Close" masih tergantung di sana, baru pukul 10 nanti bukanya. Jadi kami putuskan untuk urung ke MBK. Masih sekitar 10 menit lagi hingga pukul 10, jadi kami berdiri dekat-dekat loket sambil melihat-lihat.
Ini lagi tukar duit..

Di dalam kereta otw ke JJ MArket

Menunggu jam 10, di dlm Kereta,  motret anjing2an, ngiyup :D
Selesai menukar uang, kami segera masuk ke stasiun dan menunggu kereta. Dari BTS National Stadium ini untuk menuju BTS Mochit, di mana JJ Market berada, kami harus berganti kereta di BTS Siam. Hanya satu stasiun saja jaraknya. Kemudian dari BTS Siam kami harus melewati beberapa stasiun lagi hingga tiba di stasiun terakhir yaitu BTS Mochit. Perjalanan tak sampai 20 menit saja sepertinya, lalu kami tinggal turun, menyusuri pinggiran jalan raya, berjalan melewati pedagang yang menggelar dagangan di trotoar dan menjadikan bekas boks telepon umum menjadi tempat penyimpanan barang, kemudian berbelok ke kanan, kemudian berjalan lurus sampai menemukan pintu masuk berpagar lalu memasuki lorong pasar yang sesak pengunjung kemudian muncul di jalanan beraspal yang lebih besar di dalam pasar. Pengunjung sudah mulai rame sliweran di jalanan itu, ada juga mobil pribadi serta mobil boks yang lewat, kami harus sedikit menepi karenanya. Cuaca cerah tapi belum terlampau panas. Kami lalu berbelok ke kiri dan mulai melihat-lihat barang yang ditawarkan di kios-kios kecil yang berjejer di sana. Ada pakaian pria dan wanita, tanaman hias, tas-tas, makanan kecil dan banyak lainnya. Saya dan suami tak lama kemudian berhenti di satu kios kecil, kios penjual T-shirt yang jadi incaran suami karena nyaman di pakai, banyak desain yang lumayan ia suka dan harganya murah pula. Kios ini tak sengaja kami temukan saat pertama kali ke JJ Market ini. Lalu suami mulai sibuk memilih-milih. Harga T-Shirt di sini THB 180 per buah, tapi kalau beli 4 buah harganya jadi THB 150 per buah atau kira-kira IDR 50,000..murah kan?... J..dan suami saya langsung membeli 6 buah, saya membayarnya, menolak tas plastik pembungkus lalu memasukkannya ke ransel yang digendong suami.

Dari sana kami berjalan lagi menyusuri jalan utama, lalu masuk ke gang-gang kecilnya sambil melihat-lihat bila ada yang menarik. Saya sendiri sudah punya daftar barang yang akan saya beli dalam kepala saya hahaha…Yup, saya memang berencana membeli beberapa legging, cardigan, dress santai, blus dan mungkin kerudung jika ada. Dan ya..saya menemukan hampir semua yang saya mau, termasuk beberapa barang lain yang tak ada si daftar :P….Tapi dari sekian banyak yang saya beli di JJ Market yang paling saya suka adalah sebuah jaket/rompi tenunan tangan kerajinan khas Thailand berharga THB 800. Cantik dan worth the price I guess. Lainnya seperti legging, saya dapat dengan harga ada yang THB 79 ada pula yg bahannya lebih halus seharga THB 220. Dress kaos seharga THB 150, kerudung katun berwarna-warni cerah seharga THB 100, juga ada celana berbahan kaos halus dan t dak panas seharra THB 320.

Sudah semakin panas, kami sempat mampir membeli Es Puter Kelapa dengan potongan nangka kecil-kecil di dalamnya seharga THB 30, dan kami bisa memilih 3 topping dari sekian banyak topping yang tersedia. Ada kolang-kaling, sari kelapa, kacang tanah goreng, jagung rebus entah ada lagi saya tak tahu dan ada pula labu kuning rebus dan diiris tipis yang tadinya saya pikir mangga. Es puter ini disajikan di batok kelapa muda dengan serutan kelapa di dalamnya ditambah topping pilihan tertabur di atasnya. Saat duduk di bangku yang disediakan, seorang penjual wanitanya memberi kami sebuah gelas plastik pendek berisi air yang keruh yang rupanya adalah air kelapa. Nice..lumayan segar diinum setelah menelan es puternya.

Es puter kelapa dgn aneka topping

gaya makan es suamiku..nikmat..!

Kami lalu melanjutkan jalan-jalan lagi, mblusuk-mblusuk pasar lagi, sampai tiba di Clock Tower. Saya pernah baca kalau di dekatnya ada sebuah tempat makan halal. Kami dengan mudah menemukannya. Dari arah kami berjalan, Saman Food Court itu ada di sebelah kiri kami. Saya kemudian bertanya apa suami saya sudah merasa lapar sebab sudah jam 12 siang lebih saat itu. Ia bilang belum terlalu lapar dan hanya terus merasa haus saja. Jadi kami hanya melewatinya dan berjalan menuju pintu masuk utama JJ Market. Dari loket yang berada di pintu masuk itu, saya dipersilakan petugas yang berjaga untuk mengambil peta pasar dan sebuah kertas kaku berbentuk bulat dan bolong ditengahnya yang rupanya adalah kipas angin. Lumayan buat mengusir panas. Lalu kami berjalan lurus dari arah loket melewati berderet-deret penjual makanan lalu berbalik arah lagi menuju loket lalu berbelok ke kiri. Ini adalah sebagian makanan yang dijual di dalam JJ Market :
Telur puyuh goreng

Buah-buahan yang bikin ngiler pas panas..

Udang kupas kaya uget-uget, sosis etc..

Mangga yg biasa untuk dessert ketan mangga..

Jajanan kayak bubur cenil :D

Eh ada juga Chef  Hispanik jualan paella di pasar

Sate potato chips..
Di ujung belokan tak jauh dari pintu utama itu ada beberapa penjual makanan dan minuman. Lalu saya melihat ada tiga orang wanita berjilbab yang berjualan makanan di sana. Melihat saya yang memakai jilbab juga, salah satu dari mereka langsung membeli salam, “Assalamu’alaikum” saya otomatis membalas salam itu, “Wa’alaikum salaam”..lalu ia berkata bahwa mereka menjual jajanan halal dan mempersilakan kami untuk melihat-lihat. Wah, langsung ngiler kami berdua. Ada bermacam makanan khas India ternyata. Berbagai macam kari, dari ayam, daging hingga sayuran berkari yang dibungkus roti Naan. Saya sendiri tertarik untuk memilih samosa, pastel yang berisi kari kentang. Suami saya memilih Kari ayam yang dibungkus dalam roti Naan. Rasanya? Surprisingly good!..harganya pun murah, Chicken Curry Naan ukuran lumayan mengenyangkan itu hanya THB 40 saja, sedangkan samosa hanya THB 15 saja.

Ini enak loh!

Kami berjalan lagi kea rah kami datang tadi, sempat berbelok ke sebuah gang waktu saya melihat display T-shirt yang cukup manarik. Saya lalu menggamit lengan suami. Ia langsung antusias melihat desain T-shirt yang ditawarkan lalu sibuk memilih. Rupanya dari beberapa desain yang ia suka, tak ada ukuran yang pas untuknya. Jadilah ia mencari lagi. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk membeli 2 buah, harganya THB 240 per buah, tapi karena membeli 2 buah kami hanya membayar THB 450 saja. Kami melanjutkan perjalanan lagi, berhenti di beberapa kios. Melewati kios T-shirt tempat kami pertama mampir tadi membuat suami ingin belok lagi. Dan akhirnya suami membeli 5 buah T-shirt lagi!!.. Ransel sudah semakin penuh, bertambah berat, tapi a man has to carry it anyway hahaha…

Sibuk milih kaos lagi sambil gendong ransel yg isinya full..:D

Sudah makin siang tapi kami tak berhenti berjalan. Kami  berjalan lurus menelusuri bagian souvenir dan oleh-oleh. Berhenti membeli Magnet Kulkas seharga THB 100 per 3 buah dan kaca hias seharga THB 100 per 2 buah untuk oleh-oleh. Banyak sekali barang-barang keren dan lucu-lucu yang ditawarkan di sana. Ada keramik-keramik cantik, Kristal-kristal lucu, sabun yang wangi, cutleries warna-warni, paper napkin bergambar lucu-lucu, signage, tas-tas cantik dan banyak lagi. Aduh, pokoknya bikin ngilerlah saking lucu-lucu, cantik dan terjangkau harganya.
Sendok-garpu warna-warni

Gajah-gajahan khas Thai

Golden Retriever's Puppy
Pug's Puppy

Tempelan pintu

Ini sabun harum warna-warni

Kristal kecil-kecil, lucu-lucu
Huaaa..nyesel ga jadi beli ini..hiks

Pajangan dari keramik

Tak sadar waktu sudah hampir pukul 3 sore, cuaca sangat panas dan pengunjung makin ramai. Mengunjungi JJ Market memang lebih enak saat cuaca tak terlalu panas yaitu pada pagi hari, biasanya sih JJ Market sudah mulai buka sejak pukul 9 pagi. Sebelum pulang kami sempat membeli es puter dan minuman lagi untuk mendinginkan badan.

Es Puter Thai Tea..enaaak!

ES Jeruk nipis plissss...

Saatnya pulang. Kami segera mencari gang kecil tempat kami masuk tadi, agak sulit mencarinya karena pasar ini sangat besar dan gangnya mirip-mirip. Kami sempat berhenti membeli Es Puter rasa teh susu a la Thailand seharga THB 30 dan segelas besar Es Jeruk Nipis seharga THB 20. Lumayan untuk mengusir haus.
Di luar pasar kami sempat melihat pedagang buah di pinggir jalan dan tertarik membeli jambu air berwarna merah dan besar-besar seharga THB 50 per kilogram. Lalu segera menuju BTS Mochit lagi untuk pulang ke hotel.
Jambu air yang menggiurkan,..sluuurp..

Di BTS Mochit memandang parkiran..:D

Benar-benar setengah hari yang melelahkan, di tengah panas yang menyengat kami berjalan selama 4 jam lebih dan hanya duduk sesekali. Sampai di hotel rasanya kaki pegal luar biasa. Fiuuh…

~to be continued to Part 2.2~

Sunday, January 20, 2013

Weekend Getaway - Bangkok 11-14 January 2013 (Part 1)


Liburan pertama di tahun 2013 ini. Liburan yang singkat, 4 hari 3 malam, tapi lumayan refreshing bagi kami berdua.

Tiket pesawatnya sudah kami beli sejak 11 bulan lalu alias awal tahun 2012 lalu, sudah lama banget ya.. Tapi cara ini efektif bagi saya sebagai manager keuangan keluarga. Memesan tiket jauh hari sangat memudahkan bagi saya mengatur budget liburan supaya tak terlalu memberatkan neraca keuangan rumah tangga bulanan. Biasanya minimal 2 bulan sebelum berangkat baru saya memesan hotel di tempat tujuan liburan kami itu. Dan tentunya jeda 11 bulan itu adalah  waktu yang sangat banyak bagi kami untuk browsing tempat-tempat yang menarik untuk kami kunjungi selain pelan-pelan menabung untuk uang saku kami selama berlibur. Saya juga membuat tabel hitungan pengeluaran sederhana selama liburan. Biasanya perhitungannya di mulai dari ongkos taksi kami menuju bandara dan berakhir dengan ongkos taksi dari bandara menuju rumah. Di dalamnya tentu saja ada perkiraan budget untuk makan, transportasi, ongkos masuk tempat wisata, ongkos tour dan tak lupa biaya belanja dan oleh-oleh untuk keluarga atau teman.
Oia, tentunya saya juga membuat itinerary sederhana apalagi liburan kali ini terhitung singkat waktunya. Lumayan membantu mengatur jadwal kami selama berlibur.

Day 1 – Friday, 11 January 2013

Ready to take off

My darl hubby on board

Penerbangan kami ke Bangkok dijadwalkan jam 11.55. Mengingat kondisi lalu lintas Bali yang semakin padat setiap harinya, suami saya memutuskan lebih baik kami berangkat lebih pagi saja dari rumah. Jadi waktu memesan taksi langganan kami minta dijemput jam 8 pagi, 30 menit lebih awal dari yang disarankan Pak Gede, sang supir langganan. Rupanya pagi ini lalu lintas sangat lancar, tak sampai 45 menit kami telah tiba di Bandara Ngurah Rai.  Bandara sudah sibuk seperti biasa. Sebelum masuk ke ruang check in, kami memilih untuk mampir dulu ke Starbucks sambil menunggu waktu. Walau sebenarnya lapar, saya memilih untuk tidak sarapan pagi ini. Masalahnya sejak subuh saya sudah bolak-balik ke belakang sebanyak 3 kali. Mungkin penyebabnya adalah sambal yang super pedas yang saya makan malam sebelumnya. Walau tak makan apa-apa, perut tetap tak bisa diajak kompromi, jadi sekali lagi di bandara saya harus ke kamar mandi lagi. Akhirnya saya memilih untuk memesan teh panas saja dan meminumnya tanpa gula sambil berdoa semoga perut saya membaik. Alhamdulillah pada saat di pesawat selama 4 jam lebih hingga sampai di Bangkok diare saya berhenti, hanya tinggal kembungnya saja.

Sesampai di Bandara Don Muang, setelah melewati imigrasi dan custom kami segera menuju pintu keluar, berbelok ke kiri untuk mencari taksi menuju downtown Bangkok. Waktu setempat sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore. Kami lalu mengantri bersama banyak orang lainnya. Karena ada 4 line antrian, tak lama tiba giliran kami. Kami lalu menyebut tujuan kami dan petugas wanita di konter taksi itu hanya menyebut bahwa ongkos tambahannya adalah THB 50 dan langsung dibayarkan pada supir taksi dan apabila melewati jalan tol kami juga yang harus membayarnya. Ia lalu menyerahkan secarik kertas pada supir taksi lalu sang supir segera mengajak kami untuk mengikutinya menuju mobil dan kami segera berangkat. Seperti dugaan saya, bapak tua supir taksi ini tak bisa berbahasa Inggris. Jadi saat memastikan tujuan kami ia hanya bertanya, ‘Ibin ?’..dengan suara sengau khas orang Thailand.
saya langsung berkata, ‘Yes, Ibis Hotel Siam’

Tiba-tiba ia menepikan taksi dan berhenti,  lalu bergumam dengan bahasa Thailand yang saya nggak tahu artinya. Lalu saya keluarkan peta hotel yang memang sudah saya print dari rumah lalu memperlihatkan padanya. Rupanya ia tidak bisa membaca peta itu. Ia kemudian menelpon nomor hotel yang saya tulis di kertas peta itu, tapi entah kenapa teleponnya tak bisa tersambung. Memang hotel Ibis Siam ini adalah hotel yang baru dibuka sebulan lalu, Desember 2012. Tak heran supir taksi belum banyak yang tahu walaupun letaknya sangat strategis di pusat kota Bangkok. Terakhir ia lalu menelpon dispatchernya dan meminta saya untuk berbicara. Suara wanita di ujung telepon itu bertanya dengan sopan kemana tujuan saya, saya kemudian menyebut nama hotel lagi dan ia meminta saya memberikan telepon kembali kepada supir taksi. 

Narsis di taksi karena macet & panas, muka berminyak! :D

Di tengah kemacetan Bangkok

Tak lama taksi jalan lagi dan kami mulai bernapas lega. Tapi 15 menit kemudian, kami mendengar suara sang sopir menghela napas kesal. Rupanya karena sudah masuk kawasan kota, lalu lintas mulai padat dan macet. Hampir sejam kemudian kami baru tiba di hotel. Saya sempat melihat jarak yang kami tempuh yaitu kurang lebih sekitar 25 Km. Ongkos yang kami bayar jadinya : surcharge THB 50 + ongkos tol THB 60 + fare THB 200 = THB 310. Kalau THB 1 = IDR 332 maka THB 310 x 332 = IDR 102, 920. Harga yang rasional.

Setelah check in kami segera menuju kamar untuk manaruh barang, menunaikan sholat dan istirahat sejenak. Suami saya terlihat agak kurang sehat juga rupanya. Ia mengeluh tenggorokannya terasa sakit dan badannya sedikit meriang. Kami memutuskan untuk segera makan malam saja supaya bisa istirahat lebih awal malam ini, mengingat perjalanan panjang seharian dan badan kami yang kurang fit. Tadinya malam ini kami berencana untuk menghabiskan malam di pusat keramaian baru di pinggiran sungai Chao Phraya yang bernama Asiatique.

Di lobi hotel saya bertanya arah menuju MBK Mall pada bellboy yang mengantar kami ke kamar tadi. Ia berkata kami hanya tinggal belok kiri di depan hotel lalu naik jembatan penyeberangan yang langsung terhubung dengan MBK, 5 menit saja jalan kaki katanya. Yup, kami memang sengaja memilih hotel yang lokasinya strategis. Tepat di depan hotel adalah stasiun BTS National Stadium lalu beberapa mall seperti MBK, Siam Discovery, Siam Center, Siam Paragon juga berlokasi di dekat hotel dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.

Melewati jembatan penyeberangan, kami langsung tiba di Mall MBK lantai 3. Tujuan utama kami adalah makan malam kali ini, jadi kami langsung menuju lantai 5 mencari sebuah restoran halal yang bernama Yana Restaurant. Tak sulit mencarinya, kami segera tiba di sana. Di dalam restoran yang tak terlalu besar ini beberapa meja telah terisi, lumayan ramai pengunjungnya, sebagian besar  wanitanya memakai jilbab dan berbahasa Indonesia! Hehehe… Kami segera didatangi oleh seorang pelayan wanita yang menyodorkan buku menu lalu segera memesan Salad Mangga, Tom Yam Seafood dan Tumis ayam dengan sayuran dan kacang mete dan 2 nasi putih. Untuk minumannya kami pesan 2 gelas teh susu khas Thailand.

Berfoto di Yana Rest sambil nunggu makanan datang :P

Salad Mangga, seger & pedess!

Ayam Tumis Sayuran dengan Mete & Seafood Tom Yam

Sebenarnya rasa makanannya lumayan enak, porsinya pun cukup besar. Tapi malam ini walaupun saya sangat lapar karena tak makan sejak pagi selain 2 sendok Nasi Ayam Hainan yang dipesan suami saya saat di pesawat, selera makan saya entah menguap kemana. Suami saya juga begitu, ia tak terlalu berselera makan. Yang tandas hanya minuman saja, sedang makanan masih bersisa. Walaupun merasa sayang dan menyesal karena tak menghabiskan makanan yang kami pesan (kami sadar betapa beruntungnya kami bisa makan malam ini sedang di tempat lain banyak yang tidur dengan perut lapar sepanjang malam) tapi perut saya yang kembung sudah tak nyaman terisi makanan lebih banyak lagi, begitu juga suami saya. Saya kemudian segera beranjak ke kasir untuk membayar. Saya membayar hampir THB 690, lumayan juga ya.. tambah sayang lagi jadinya tadi tak bisa menghabiskan makanan pesanan kami hehehe..  Yang terpenting sih makanan di sini halal. Oia, restoran ini menyediakan fasilitas Wifi gratis loh untuk tamunya. Asyik ya…

Kami berdua segera beranjak pergi dari sana dan menuju tangga turun lalu segera menuju hotel kembali. Sampai di hotel kami berdua kemudian mandi, sholat, lalu berbaring di tempat tidur. Suami saya mulai terbatuk-batuk dan berkata pada saya kalau dadanya sesak. Jadi saya segera menawarkan apa ia mau dikerok dan ia bilang mau. Setelah mengerok punggung dan dadanya, saya cepat sekali mengantuk karena di pesawat tadi siang tak bisa tidur. Suami saya masih sibuk memencet-mencet remote TV untuk mencari chanel yang menarik untuk ditontonnya. Saya sempat terbangun tengah malam dan menyadari suami saya belum tidur juga dan sedang gelisah di sebelah saya. Dalam hati saya tahu bahwa suami saya pasti gelisah karena lapar jadi tak bisa tidur. Selain karena makan malam tadi terlalu awal juga karena biasanya ia makan malam memang jam 11 malam-an, sesampainya ia di rumah sepulang kerja (Jam kerja suami memang setiap harinya selain hari Minggu kurang lebih dari jam 13.30 – 22.00. Kadang bisa lebih cepat atau malah lebih malam dari itu, tergantung situasi. Maklumlah, sebagai Chef, dia harus in charge untuk lunch dan dinner). Tapi tak lama kemudian saya jatuh tertidur lagi. Sementara menurut suami, ia susah tidur semalam karena menahan lapar. Karena tak ada makanan kecil, ia hanya minum teh untuk mengganjal perut. Kasian ya..hahaha..
Pemandangan dari jendela kamar kami di malam hari. Gedung di kanan itu
berubah warna lampunya setiap beberapa menit dari kuning ke merah ke biru  lalu pink.
(foto ini hasil jepretan suami yang tak bisa tidur pdhl sedang meriang)

Alhasil sehabis subuh ia tak sabar untuk segera sarapan di restoran hotel. Saya yang inginnya tidur lagi malah tak bisa tidur sebab ia sibuk mondar-mandir di kamar sambil memotret pemandangan gedung-gedung bertingkat dari jendela kamar kami yang berada di lantai 14.

~to be continued~

Love..Love..Love

I love you for being you and the way you make me feel when I am with you..

(And among His miracles and proofs is that He created from among yourselves spouses to reach peace and calm with, and made mercy and love between yourselves) (Ar-Rum 30: 21)











I love you, darl!