Wednesday, April 17, 2013

Life oh Life



Apakah ini sebuah kesombongan, tatkala kita merasa bersalah atas ketidakberuntungan orang lain?
Atau saya ini orang yang kufur nikmat?
Naudzubillahi min dzalik.

Sedihnya hati saya, mendengar cerita seorang istri, seorang ibu, yang bekerja melebihi kemampuan keringkihan tubuhnya tapi masih tetap berharap bisa memperpanjang waktu menjadi lebih dari 24 jam sehari hanya supaya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja lagi.
Sementara saya bisa saja menunda pekerjaan karena merasa punya lebih banyak waktu. Sungguh saya orang yang merugi.

Hancurnya hati saya, mendengar kesedihan seorang istri, seorang ibu, yang merasa sendiri menghadapi dunia yang sungguh material ini.
Ya benar, kami perempuan, memang materialistis. Sebab belum lagi habis bulan, kami sudah membuat perhitungan untuk bulan-bulan berikutnya. Percayalah, wanita menghitung berapa banyak yang dihabiskannya untuk membeli bahan makanan untuk keluarganya hari ini. Seberapa sering laki-laki bertanya berapa banyak uang yang dihabiskan saat melihat makanan terhidang untuknya di meja makan? Saya yakin mereka lebih sering bertanya, kenapa tidak ada makanan yang terhidang hari ini?

Saya menangis diam-diam, mendengarnya bercerita rela bekerja di tempat yang saya pun tak menyangkanya. Bukan, bukan pekerjaan yang tidak halal. Tapi berbanding terbalik dengan pekerjaan utamanya. Don’t get me wrong, saya tak mengecilkan apapun pekerjaannya. Saya justru mengagumi kegigihannya. Toh hidup ini tak bisa makan gengsi. Demi keluarganya, bukan demi siapa-siapa.

Masygul rasanya melihat sang kepala rumah tangga tak cukup keras berusaha sepertinya. Apalagi hanya mampu berkata, “Aku tak memintamu untuk bekerja seperti itu”. Padahal perempuan itu mau hanya supaya ia bisa mencukupi keluarganya dan supaya sang lelaki bisa lebih berusaha.  “Lihat aku, tak malu bekerja kasar demi kita. Apapun kulakukan demi kita, asal halal. Kerjakanlah bagianmu. Sebab mestinya, paling tidak, kaupun harus berusaha sekeras aku.”

Berdoa saja tak cukup, Tuhanmu juga memintamu pergi ke luar untuk berusaha. Pekerjaan bisa kau temukan di luar sana, bukan cuma dengan menelusuri layar komputermu. Sadar tidak, keadaan sudah genting? Ya, genting! Dan kau masih saja duduk menunggu sambil merasa bahwa kau telah cukup berusaha? Kalau merasa sudah cukup berusaha, tunjukkan mana hasilnya!
Sadar tidak, your family is falling apart!

Jangan bilang kami perempuan tak pandai bersyukur. Justru karena kami bersyukur kami jadi berusaha lebih keras. Tak apa kami lelah, asal orang-orang yang kami sayangi bisa hidup lebih baik.
Kebahagiaan seorang perempuan adalah ketika menyaksikan orang-orang yang dikasihinya bahagia tanpa diselipi kecemasan akan masa datang.

Verily, after hardship comes ease. La Tahzan!

~What I see from where I stand~
(Astaghfirullah)

Saturday, April 13, 2013

The Good Fridays



Saya percaya, Jum’at adalah hari yang paling baik di antara hari-hari lain. Tapi bukan berarti hari-hari yang lain tak baik ya, in my belief there is no such thing. Semua hari adalah baik, tapi yang terbaik adalah hari Jum’at, hari di mana nabi Adam AS diciptakan Allah.

My dear hubby at work

Alhamdulillah, saya dan suami 2 bulan ini mengalami hal-hal yang baik di hari Jum’at. Jum’at awal Maret lalu, suami saya mendapat telpon dari seseorang yang bekerja di stasiun televisi yang menyelenggarakan kompetisi memasak bagi chef professional di seluruh negeri bahwa ia terpilih menjadi salah satu kandidat yang akan diaudisi untuk kompetisi itu. Jum’at dua minggu berikutnya, pihak televisi tsb dan seorang penilai mendatangi restoran tempat suami saya bekerja untuk mengaudisi suami saya. Tantangannya adalah memasak 2 jenis makanan dalam waktu 20 menit dan direkam oleh seorang juru kamera. Setelah itu, mereka mewawancarai suami saya dengan berbagai macam pertanyaan tentang dirinya, etos kerjanya, dll. Saya senang mendengar bahwa suami saya merasa bisa melakukannya dengan baik, tidak nervous. Dan yang terpenting adalah ia telah berusaha sebaik yang ia mampu dan merelakan hasilnya pada Allah. Setelah itu ia hanya tinggal menunggu pemberitahuan apakah ia akan lolos menjadi salah satu peserta yang akan berlaga di Jakarta.

In between those Fridays, di Jum’at yang lain ada lagi berita baik lainnya. Seorang sahabat saya, Lili,  tiba-tiba mengajak saya dan beberapa sahabat kami yang lain untuk pergi umroh ke tanah suci awal tahun depan dengan biaya murah. Walau bersemangat untuk ikut, tapi saya memahami kemampuan financial kami yang tak memungkinkan untuk mengumpulkan puluhan juta dalam waktu singkat untuk biayanya. Berita baiknya, Lili bersedia menanggung biaya kami dimuka supaya kami bisa berangkat umroh bersama. Jadi ya, Lili menawarkan soft loan bagi kami untuk mencicil biaya umroh padanya sampai pada saat sebelum kami berangkat umroh nantinya. Alhamdulillah…all praise belong to Allah.
Namun, ditengah diskusi masalah umroh ini, ada sedikit keraguan sebab kami hanya perlu membayar 12.5 juta saja untuk umroh di bulan Februari tahun depan. Murah sekali bukan?  Justru karena murah itu, kami menjadi sedikit ragu. Takutnya travel umroh yang akan mengakomodir keberangkatan kami ke Mekah nanti akan menipu kami. Hati kecil kami bertanya, ‘Benar nggak sih bisa umroh dengan biaya semurah itu?’ Namun Lili berkata bahwa bahwa uang yang nanti kami bayarkan itu akan diputar dulu makanya harganya bisa murah. Apalagi kami membayarnya hampir setahun sebelum keberangkatan kami.
Lalu Lili juga bilang, kalau adiknya akan berangkat umroh dengan travel umroh yang sama bersama 10 orang lainnya 3 minggu lagi. Kami bertanya apa tidak lebih aman kalau kami mendaftar setelah adiknya berangkat saja. Namun untuk bisa pergi di bulan Februari tahun depan dengan harga 12.5 juta itu, kami harus membayar paling lambat tanggal 30 Maret. Kalau kami mendaftar dan membayar bulan April maka harganya akan menjadi 13.5 juta rupiah dan akan berangkat bulan April. Sahabat saya itu bilang kalau Februari lebih enak sebab suhu di sana tak terlalu panas, bulan April akan lebih panas. Lili membiarkan kami berpikir selama beberapa hari sebelum memutuskan. Saya dan suami juga seorang sahabat lain, Duri, akhirnya membulatkan tekad lillahi ta’ala untuk mendaftar akhir Maret lalu. Sedang Metta & Masri sahabat saya yang lain tak bisa ikut kaerna alasan pekerjaan. Jadilah kami berempat yang mendaftar, Lili, saya, suami saya dan Duri.

Lalu di pagi Jum’at ini, saya menerima kiriman Lili berupa foto adiknya beserta rombongan yang sudah tiba di Madinah melalui akun fesbuk saya. Ia juga mengirimkan foto kamar untuk berempat dari hotel tempat mereka menginap. Alhamdulillah, semakin yakinlah kami. Saya lalu mengabarkannya pada suami saya yang sedang berada di kamar mandi pagi itu. Hanya Alhamdulillah berkali-kali yang kami ucapkan. Senangnya hati kami. Sebab pergi beribadah ke tanah suci adalah impian kami. Saya pribadi begitu merindukan untuk bisa melihat Ka’bah sampai sering sekali menangis apabila melihat gambar Ka’bah. Kerinduan itu luar biasa. Alhamdulillah, sudah mulai terlihat jalan kami menuju tanah suci, insyaAllah.

Rindu kami padamu luar biasa :)

Selesai sholat Jum’at, suami saya langsung berangkat kerja karena sudah ditunggu atasannya untuk meeting tanpa sempat makan siang. Saya kemudian kembali sibuk beberes rumah sambil mencuci baju. Menjelang Ashar, saya segera mandi. Dari dalam kamar mandi saya mendengar dering telpon. Dari nada deringnya saya tahu bahwa itu telpon dari suami saya. Tapi karena sedang mandi, saya membiarkannya berdering sampai berhenti sendiri. Saya pikir nantilah setelah mandi saya telpon balik saja.
Selesai mandi saya langsung meraih tab saya untuk menghubungi suami. Tapi haduh..kok nggak masuk-masuk ya?..tak terdengar nada sambung. Saya lalu mengirim pesan melalui whatsapp. Suami saya ternyata juga tak bisa menghubungi saya. Ia berkata melalui whatsapp kalau baru saja dihubungi oleh wakil dari stasiun televisi penyelenggara kompetisi memasak yang diikutinya bahwa suami saya termasuk dari 30 peserta kompetisi dan akan diberangkatkan ke Jakarta akhir bulan April ini. Alhamdulillah…saya mengucap syukur banyak sekali hari ini.
Lalu ia bilang akan ada shooting awal di restoran tempatnya bekerja akhir minggu depan. Tapi selain ia, pihak stasiun televisi itu juga meminta saya ikut shooting. Waaks….kok saya harus ikut juga sih? Belum apa-apa saya sudah grogi. Suami saya Cuma bilang, ‘Kamu kan bawel, pasti lancar ngomong di depan kamera nanti’ Hahaha…..
Ya sudahlah, mau gimana lagi. Saya kan harus mendukung suami, walau deg-degan, saya bismillah sajalah.

Yang lebih membahagiakan dari semua itu adalah, suami saya mendapat banyak doa dari kelluarga dan teman-teman dekat kami. Tentunya berita membahagiakan itu kami bagikan kepada keluarga dekat sekalian meminta doa restu kepada orang tua dan keluarga dekat lainnya supaya usaha suami dimudahkan Allah nantinya.
Tak mau bermuluk-muluk, kami berdua menyerahkan sepenuhnya urusan kami hanya pada Allah SWT. Sebab kami tahu Allah SWT pasti akan memberikan yang terbaik bagi kami. Saya hanya berpesan pada suami, bahwa semua karunia dan berkah ini adalah karena Allah semata. Bukan karena keahliannya atau kepintarannya. Saya memintanya untuk tetap rendah hati, berusaha semaksimal yang ia bisa lalu memasrahkanya pada Allah, Sang Pemilik Semesta ini. La haula wala quwwata illa billah.


RABBI ANZILNI MUNZALAM MUBARAKAW WA ANTA KHAIRUL MUNZILIIN
‘Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat’ 

~QS Al Mu’minun : 29~

Aamiin Ya Rabb.

Jumuah Mubarokah.

Thursday, March 28, 2013

Hari Ubi Nasional

Jangan salah baca ya, bukan Ibu tapi Ubi...hehehe

Ceritanya beberapa hari lalu suami saya ingin dibuatkan jajanan dari singkong. Jadi malam-malam pergilah kami ke supermarket untuk beli singkong kupas. Tak tanggung-tanggung, kami beli 2 bungkus singkong kupas yang beratnya mungkin hampir dua kiloan. Saya kemudian janji padanya untuk membuatkan dua macam jajanan kesukaannya itu besok. 

Tapi keesokan harinya saya sibuk menemaninya ke sana ke mari. Jam 11 siangan kami ke kantor Pajak untuk menyerahkan SPT tahunan, seperti biasanya rame dan antri. Tapi suami saya rupanya tak terlalu lama harus mengantri di sana. Saat penyerahan SPT pada petugaspun hanya sebentar sebab hanya perlu mengisi sedikit perubahan data saja. Setelah itu kami makan siang di dekat situ, sup ikan khas Bali dan ikan goreng, enak dan segar disantap di siang sepanas itu. Karena sudah waktu sholat Dhuhur, kami segera mencari masjid yang letaknya tak jauh dari sana. Lalu kami beranjak pergi menuju sebuah toko bahan kue dan peralatan membuat kue di pusat kota Denpasar yang lumayan macet di Senin yang terik itu. Suami saya membeli satu set nozzle untuk menghias kue di tempat kerjanya dan saya membeli dua buah loyang kecil untuk membuat cake. Selepas dari sana, kami segera menuju Tuban, ke tukang jahit langganan tempat kerja suami untuk memesan beberapa buah chef jacket warna hitam untuknya.
Kelar urusan memilih bahan dan mengukur, kami berencana untuk segera pulang. Rupanya suami yang mengambil jatah liburnya hari ini mendapat telpon dari kantornya. Ada urusan mendesak yang mengharuskannya datang ke kantor. Akhirnya kami tak jadi pulang dan segera menuju ke kantornya. Baru setelah selesai urusan di kantornya kami pulang ke rumah. 

Kami sampai di rumah sekitar jam 5 sore. Kepanasan dan lumayan capek. Malamnya kami makan di luar. Setelahnya kami bersantai di tempat tidur sambil nonton TV. Suami saya lalu meminta saya untuk menggorengkan singkong untuknya. Saya pribadi lebih suka merebusnya dulu dengan bumbu bawang putih dan garam yang diulek halus. Lebih empuk dan gurih saaat digoreng. Suami saya sih maunya langsung aja digoreng, kelamaan katanya. Tapi saya kekeuh merebusnya dulu hehehe...Alhasil malam itu kami tak jadi makan singkong goreng, tapi singkong rebus berbumbu..;)

Keesokan harinya, pagi-pagi kami sarapan singkong goreng yang empuk gurih ditemani teh tubruk. Sedaaap! Sore harinya setelah selesai menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam, saya mulai mengolah sisa singkong kupas untuk membuat jajanan pesanan suami.

Yang pertama saya buat adalah Sawut. Gampang banget bikinnya. Tinggal parut singkong dengan mandoline menjadi parutan yang agak besar-besar. Saya agak malas mengeluarkan mandoline dari dalam kontainer peralatan-peralatan masak saya, jadinya saya menggunakan peeler. Hasilnya panjang-panjang dan pipih. Setelah itu tinggal menambahkan serutan gula merah sesuai selera, aduk rata, kemudian tinggal dikukus saja. Disajikan dengan kelapa parut. Oia, kelapa parutnya jangan lupa dikukus juga setelah dibumbui garam supaya lebih awet.

Sawut


Setelah selesai mengolah sawut, saya kemudian mulai memarut singkong untuk membuat Sentiling. Hanya saja pekerjaan saya agak tertunda sebab saya lupa membeli santan dan pisang sebagai pelengkap bahan-bahan. Warung tetangga juga tutup, sebab tetangga saya yang mayoritas beragama Hindu sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri menyambut hari raya Galungan. Alhasil saya meminta suami untuk membelikannya sepulang ia kerja nanti. Untungnya, penjual pisang masih buka jadilah saya membuat Sentiling Isi Pisang.

Sentiling Isi Pisang

Sentiling Isi Pisang

Bahannya :

5 buah Pisang Kepok, Kukus, dinginkan
500 gr Singkong, parut halus
100 gr Gula Pasir
100 gr Santan Kental (Saya pakai Santan Kara), campur dengan 50 ml air
1/4 sdt Garam
Pewarna Makanan Hijau & Merah

Caranya :

Campur parutan singkong dengan gula, garam, santan serta air, aduk rata. Bagi adonan menjadi dua. Masing-masing beri pewarna merah dan hijau.
Olesi loyang dengan sedikit minyak goreng. Tuang adonan hijau di dasar loyang, ratakan. Letakkan pisang kukus yang telah dibagi dua memanjang di atasnya sehingga menutupi permukaan adonan hijau. Tuang adonan merah di atas pisang kukus, ratakan.
Kukus di dandang yang sudah dipanaskan terlebih dahulu selama kurang lebih 25 menit. Setelah matang, dinginkan. Sajikan dengan parutan kelapa.

Alhamdulillah, suami saya suka. Dia memang benar-benar anak singkong hahaha...

Selamat Hari Ubi Nasional, Anak Singkongku...xx

Sunday, March 10, 2013

Beta Rindu Pulang, Sio Mama..

SangatInginPulang. SangatInginNangis. SangatInginMama!


I wanna go home...

Tuesday, February 26, 2013

S.e.l.i.n.g.k.u.h



Love,
It doesn't need to be perfect,
It just needs to be true.

~ Unknown ~
Apapun alasannya, saya  sangat membenci tindakan orang yang berselingkuh dari pasangan(sah)nya. Apapun masalah yang sedang dihadapi, pasti ada jalan keluarnya. Entah itu merekatkan kembali atau malah bercerai. Kalau yang terjadi yang pertama, Alhamdulillah. Tapi kalau harus bercerai, meski tindakan itu dibenci Allah, tapi itu lebih baik daripada berselingkuh. Berselingkuh itu bukan hanya mengkhianati janji terhadap pasangan hidup, tapi juga mengkhianati janji yang kita buat dengan nama Allah. Hanya orang yang tak kuat iman saja yang berkhianat. Apalagi berkhianat terhadap Tuhannya.

***


Saya mengenal seorang perempuan, yang juga seorang istri dan seorang ibu yang berkhianat terhadap suaminya, anak-anaknya, keluarganya. Di saat sang suami sedang berada di level terendah dalam hidupnya, bukannya menjadi penyemangat hidupnya, malah menjadi masalah baru yang membuat suaminya jatuh makin dalam. Seorang istri yang mestinya jadi penyejuk hati suami, teladan bagi anak-anaknya, memilih untuk mengkhianati mereka.

Saya kesal, marah dan terluka. Kenapa begitu mudah merendahkan diri sendiri? Menyerahkan kehormatan dan harta bukan kepada yang berhak. Aarrrgh….saya benci!!
Lalu saat ketahuan, menangis menyembah-nyembah untuk dimaafkan. Merasa pantas ya untuk dimaafkan? Merasa pantas ya mendapatkan kepercayaan setelah membuangnya tanpa berpikir panjang?
Saya marah sampai tak sudi melihat mukanya, tak sudi bermuka manis terhadapnya, tak sudi sekedar berbagi ruangan dengannya. Saya marah mengetahui ada seorang perempuan yang saya kenal mampu berbuat sekeji itu, serendah itu. Astaghfirullah.
Lalu untuk menutupi kesalahan, berusaha menjadi orang lain yang bukan dirinya. Bermanis manja di depan suami yang dikhianatinya demi mengalihkan permasalahan. Memuakkan!
Itu bukan penyesalan, itu kedok!

(Saya bukan makhluk suci, saya benci manusia hipokrit!)

Namun dunia ini memang benar berputar, tak disangka suatu waktu saat berada di puncak karirnya, gantian sang suami yang berbuat sama terhadap sang istri. Aaargh…sama saja!

A cheater belongs to a cheater!

Lalu sama-sama bereaksi berlebihan. Bukannya sama-sama pernah menjadi pelaku dan korban selingkuh? Jadi stop being so lebay about it.
Sang perempuan berlagak seperti korban. Nggak ingat ya dulu pernah berbuat hal hina yang sama? Sang lelaki merasa terintimidasi karena dipojokkan terus menerus. Siapa suruh membuat kesalahan yang sama? Kalian pikir saling membalas membuat kalian puas? Merasa menang?
Tambah muak, tambah marah, tambah kesal plus sebal.
Cukuplah…cukup sudah!

Muak! Muak! Muak!

Sungguh benar orang bilang : “Kesetiaan seorang istri diuji saat sang suami berada di titik terendah hidupnya. Sedangkan kesetiaan seorang suami diuji saat ia sedang berada di titik teratas hidupnya”

Dan yaa…kalian berdua G.A.G.A.L!!

“Berfikir sebelum berbuat adalah satu kebijaksanaan, berfikir setelah berbuat adalah satu kebodohan, sementara berbuat tanpa berfikir adalah seribu kebodohan”

Nikmati saja akibatnya!

~Naudzubillahi min dzalik~

(CatatanEmosiJiwa)

Monday, February 25, 2013

I Quit


Minggu lalu saat sedang mencuci piring di dapur, sayup-sayup terdengar suara seorang pembaca berita siang di TV dari dalam kamar. Sambil terus mencuci piring, saya memasang telinga sebab beritanya menarik perhatian saya, “Indonesia, a Baby Smoker Country”. Miris mendengarnya. Ingat kan pernah beredar tayangan video tentang seorang anak berumur sekitar 3-4 tahun dari Jawa Timur yang sedang merokok dengan gaya canggih dan fasih? Video itu banyak diposting di media sosial kala itu. Nah beredarnya video itulah awal mula yang membuat negara kita terkenal dengan sebutan “ Baby Smoker Country”, satu-satunya di dunia! Yang membuat saya kaget, menurut nara sumber berita siang itu, jumlah perokok berusia balita cukup banyak, dengan usia perokok paling muda sekitar umur 2 tahun, OMG! Jumlah perokok di bawah umur 14 tahun juga cukup memprihatinkan. Tapi yang semakin meningkat jumlahnya adalah perokok berusia antara 15 sampai 18 tahun.
Lalu bagaimana bisa anak-anak yang berusia sangat kecil itu bisa jadi kecanduan merokok? Rupanya pengaruh lingkungan keluarga sangatlah berperan. Rata-rata orang tua mereka, baik ayah atau ibunya atau keduanya adalah perokok. Atau keluarga dekat lainnya. L

                                                               
Saya melihat ayah saya merokok sejak kecil, sejak usia SD. Di usia 10 tahunan, saya  dan abang saya yang usianya 3 tahun di atas saya pernah coba-coba merokok dari sisa rokok ayah, secara sembunyi-sembunyi tentunya. Walaupun saat itu tak bisa merasakan nikmatnya merokok, tapi memang benar kami tertarik mencoba karena sering melihat ayah kami merokok.

Saat saya beranjak remaja, saya menemukan lebih banyak lagi anggota keluarga yang perokok diantaranya adalah om dan tante saya. Belum lagi teman-teman abang saya. Mungkin gara-gara itu pula saya merasa ingin mencobanya. Tapi saya baru benar-benar jadi perokok sejak tahun pertama kuliah, tahun 92. Dari sekedar iseng-iseng sampai akhirnya menjadi perokok ‘serius’.
Di lingkungan kampus saya, merokok bukan hal yang aneh atau tabu, bahkan untuk perempuan sekalipun. Jadi tindakan iseng-iseng saya perlahan menjadi kebiasaan yang susah dihilangkan setelahnya. Walau namanya kebiasaan buruk tapi kalau lingkungan kita permisif jadinya tak seperti melakukan sebuah kebiasaan buruk.

Dalam lingkunga keluarga selain ayah, abang saya pun sudah menjadi perokok pada saat itu. Tentunya saya tak berani merokok terang-terangan di depan kedua orang tua saya, walau saya yakin 200% bahwa mereka mengetahui kalau saya ini seorang perokok. Dan walau mereka tahu saya perokok, ayah dan ibu tak pernah menegur saya. Mungkin serba salah juga mau menasehati saya sedangkan ayah saya sendiri perokok berat. Sampai menikahpun, suami saya tampaknya tak keberatan saya tetap merokok, sebab ia juga seorang perokok seperti saya.

Berada di lingkungan perokok membuat keinginan untuk berhenti merokok cepat menguap. Saya ingat pernah 2 kali mencoba berhenti merokok dan gagal. Yang pertama hanya bertahan 2 minggu saja. Saat berkumpul bersama teman-teman yang perokok tak tahan melihat mereka merokok dengan asyik dan akhirnya saya kembali merokok. Yang kedua, kira-kira sepuluh tahun setelah itu. Saat itu saya ikut suami yang bekerja di Singapura. Kali ini bukan karena saya ingin berhenti merokok, tapi karena harga sebungkus rokok di sana sangat mahal hehehe… Bayangkan, waktu itu harga sebungkus rokok di Indonesia sekitar 10 ribu rupiah, sedang di sana harganya SGD 11. Kurs waktu itu 1 SGD = Rp. 5,500. Jadi harganya 5 kali lipat lebih mahal! Tapi, saat balik ke Indonesia lagi, kami berdua kembali menjadi perokok, sebab harga rokok murah hehehe…dasar memang nggak niat berhenti merokok.

Bagi saya, merokok sudah seperti makan saja. Sebuah keharusan, sebab kalau tak makan tubuh akan memberontak, menagih. Bahkan terkadang merokok lebih penting daripada makan. Saya rela menahan lapar asal ada rokok yang terselip di bibir. Kalau hanya punya uang untuk beli makan saja atau beli rokok saja, tentunya saya lebih memilih untuk membeli rokok saja ketimbang beli makanan.

Merokok seperti sebuah ritual yang wajib dilakukan setiap harinya. Bangun tidur di pagi hari yang pertama kali saya lakukan setelah minum air putih adalah merokok. Karena merokok saya sering kali skip sarapan. Browsing dan mengerjakan sesuatu di depan komputer paling enak sambil merokok. Habis makan siang kalau tak merokok rasanya tak lengkap. Sambil nonton TV paling enak sambil merokok. Ketemu teman paling enak ngobrol sambil merokok. Ngobrol santai dengan suami di teras samping paling seru kalau sambil merokok berdua. Pokoknya sehari-hari, di setiap rutinitas, rokok tak lepas dari bibir saya. Saya ini benar-benar kecanduan rokok. Sampai-sampai, emosi saya kadang suka tak terkontrol apabila dalam kondisi tertekan atau banyak pikiran apabila tak ada rokok terselip di bibir. Rokok membuat saya kalem, tenang. Gila! Segila itu tapi saya tak berniat sedikitpun berhenti, padahal saya tahu rokok terkadang mengontrol mood saya. Saya benar-benar addicted to ciggy.

Februari dua tahun lalu suami saya terkena flu berat. Saya hanya berfikir bahwa ia kurang istirahat dan cuaca yang tak bersahabat karena sedang musim hujan. Flunya mereda setelah semingguan dan menyisakan batuk yang tak kunjung sembuh walaupun sudah ke dokter. Karena batuk itulah ia memutuskan untuk berhenti merokok. Saya yang waktu itu sehat-sehat saja tetap merokok. Walau tak di depan suami, sebab asap rokok bisa memicu batuknya. Setiap habis ngedrop suami ke tempat kerjanya dia berpesan supaya saya berhenti merokok. Tapi saya tetap bandel dan tetap membeli sebungkus rokok sebelum pulang ke rumah. Tapi lama-lama suami rupanya marah juga melihat saya tetap bandel merokok padahal sudah dilarangnya. Dia bilang, ini saatnya bagi kami untuk berhenti merokok dan hidup lebih sehat. Saya akhirnya menurut walau dengan setengah hati.

Hari-hari pertama berhenti merokok merupakan siksaan luar biasa bagi tubuh saya. Tubuh menagih nikotin tapi tak terpuaskan. Saya jadi mudah gelisah. Emosi cepat naik. Tidur malampun tak nyenyak. Saya bermimpi merokok sampai 3 bulan pertama sejak berhenti. Saya jadi banyak makan dan tubuh jadi melar. Tapi sudahlah, kali ini setelah lewat bulan ke 3 tubuh saya mulai tak terlalu menagih nikotin, tapi bukan berarti tak ngiler melihat teman-teman kami merokok di depan kami. Berat!

Suami saya sungguh pintar mengimi-imingi reward apabila kami berdua berhenti merokok. Dia bilang uang yang biasanya kami habiskan untuk membeli rokok tiap bulannya lebih baik kami tabung untuk liburan. Otak saya langsung menghitung cepat. Sebulan kami mengabiskan tak kurang dari 600rb rupiah untuk membeli rokok. Berarti setahun ke depan kami bisa menabung 7 juta lebih untuk berlibur. Wah seru nih. Bisa untuk liburan seminggu ke Lombok atau 3-4 hari ke Thailand. Jadi, saya mulai memfokuskan diri untuk menabung uang rokok kami itu daripada memikirkan tubuh saya yang haus nikotin. Dengan begitu saya lebih mudah melewati hari demi hari tanpa rokok lagi.

Tahun ini tak terasa sudah 2 tahun kami berdua berhenti merokok. Sudah tak tersisa lagi keinginan untuk merokok. Bahkan kalau ada yang merokok di sebelah, kami memilih untuk menutup hidung dan menyingkir. Kami mulai memahami kenapa dulu para non-smoker sebal melihat kami menghembuskan asap racun itu. Sekarang kami juga merasakannya!

Saya masih berharap ayah saya, abang saya, ipar-ipar saya, teman-teman saya ataupun kerabat saya lainnya untuk berhenti merokok seperti kami. Semoga! Selain demi kesehatan mereka juga demi anak-anak dan orang-orang di sekitar mereka. Terlebih anak-anak mereka, sebab anak lebih melihat perbuatan daripada sekedar perkataan. Saya tak ingin keponakan kami nantinya setelah beranjak remaja ikut-ikutan merokok seperti kami dulu. Dan baru sekarang saya merasa menyesal pernah menjadi contoh yang buruk bagi mereka.

What happen after quiting..

Please make sure, once you quit smoking, you quit for good.

Saturday, January 26, 2013

Weekend Getaway - Bangkok 11-14 January 2013 (Part 3-Last)


Day 3 – Sunday, 13 January 2013

Kami berdua tidur lagi setelah sholat Subuh, badan masih terasa capek setelah seharian kemarin jalan sampai tengah malam. Jam 8 kami baru beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk sarapan. What a lazy Sunday indeed..

Kembali ke kamar setelah sarapan kami masih bersantai-santai. Masih malas mandi. Kamar terlihat berantakan sebab semalam saya terlalu capek dan malas untuk beberes. Meja di bawah jendela penuh barang, di bawahnya tempat sampah juga penuh. Koperpun masih berantakan. Di kursi bergantungan baju dan sajadah serta mukena. Haduh..pusing juga melihatnya. Harus segera beres-beres ini, apalagi kami harus check out siang ini.

Saya mulai melipat rapi baju-baju, mengelompokkannya lalu menaruhnya di koper. Baju kotor dan sandal jepit saya masukkan ke kantong plastik. Barang-barang yang sekiranya mudah pecah saya bungkus dengan kain atau baju. Makanan kering juga saya masukkan kantong plastik. Saya menyisihkan baju yang akan kami pakai hari ini, baju tidur dan baju yang akan kami pakai besok untuk nantinya ditaruh di dalam koper yang paling atas. Setelah mandi baru saya bereskan sisanya; baju kotor dan peralatan mandi. Seperti biasa suami sayalah yang duluan mandi, sedangkan saya melanjutkan packing lalu menyusul mandi  setelah ia selesai. 


Rupanya saat saya sedang mandi, suami saya malah membunuh kebosanan dengan foto-foto sendiri menggunakan tablet saya. Ini dia sebagian dari foto narsisnya hahaha....




Kami baru keluar kamar pukul 10.30. Tujuan kami, ke MBK, lagi! Hahaha….ada yang harus saya beli di sana. Suami saya mengiyakan saja walaupun dia bosan juga bolak-balik ke MBK. Setelah mendapatkan yang saya cari, suami mengajak untuk jalan-jalan ke Siam Discovery, Siam Center dan Siam Paragon yang tak jauh dari sana. Kami melihat-lihat sebentar di sana sampai tersadar bahwa kami harus check out dulu sebab tak terasa sudah hampir jam 12 siang. Jadi kami buru-buru kembali ke hotel.

Sesampai di hotel saya langsung menghampiri konter reception. Pada petugas wanita yang berdiri di belakang konter saya berkata, jika boleh kami ingin check out sekitar jam 12.30 supaya kami bisa sholat Dhuhur dulu. Ia kemudian mengecek nomor kamar kami di komputer lalu berkata bahwa kami boleh check out jam 13.00. Wow, thanks!
Check out

Nitip koper

Tak sampai jam 1 siang kami akhirnya turun ke lobi untuk check out. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran, kami menitipkan koper supaya kami bisa jalan-jalan dulu dan akan mengambilnya sore nanti.

Jual apem di dekat hotel

Roti bakar di jalanan dekat hotel

Pisang bakar


Tujuan kami kali ini adalah ke Siam Paragon. Kira-kira 15 menitan kami jalan kaki hingga sampai ke sana melewati Siam Discovery dan Siam Center. Rencananya kami ingin ke Gourmet Market yang ada di lantai dasar Siam Paragon.

Gourmet Market sebenarnya adalah sebuah supermarket. Supermarket is kinda like a fave playground to my darling hubby, and me. Entah kenapa kami berdua selalu excited kalau ke supermarket besar dan serba lengkap, seperti di Gourmet Market ini. Mungkin karena banyak makanan dan kami suka makan hahaha….
Pertama kali masuk kami melihat display buah-buahan di rak pajang sungguh menarik hati, segerr! Tak jauh dari situ terliihat meja display yang di atasnya berderet kotak-kotak terbuat dari plastik tebal transparan. Isinya..buah-buah kering! Kami langsung mendekat dan mulai icip-icip sampel berbagai buah kering yang dipajang. Icip sana icip sini, kami akhirnya memutuskan membeli beberapa macam. Saya memilih Pomelo alias Jeruk Bali, warnanya hijau terang, rasanya asam segar. Suami saya memilih Gambia. Hmm apa ya Gambia itu? Potongannya mirip manisan Pala, warnanyapun mirip. Tapi yang ini rasanya asam. Suami saya memilih prune. Bentuknya bulat keriput, warnanya merah tua hampir coklat dan agak kering. Rasanya asam manis. Saya juga memilih Prune yang lain. Prune yang ini lebih lembab, tidak kering seperti prune yang pertama. Warnanyapun lebih merah dan tidak keriput. Rasanya? Asamnya bikin mengkerut hahaha…tapi enak!
Harga buah kering yang kami beli ini berkisar antara THB 130-an sampai THB 160-an per bungkus dengan berat  500 gr.
Dari  kiri atas searah jarum jam : Gambia, Prune kering, Prune Basah
 dan Jeruk Bali


Di depan rak buah-buahan kering ini ada sebuah keranjang bulat dari rotan yang isinya kacang Pistachio. Saya langsung mengambil sebungkus, tadinya yang ukuran 250 gr, tapi saya kemudian menukarnya dengan yang berukuran 500 gr..hehehe.. Harganya THB 380 per bungkus.
Lalu kami melihat ada sebuah gerai yang menarik, ada wanita berbaju tradisional korea di sana, kami mendekat untuk melihat. Rupanya yang dipajang di sana memang asli di datangkan dari Korea, yaitu buah strawberry organik. Warnanya merah segar, membuat ngiler. Daaan.. ukurannya jumbo! Hampir sebesar telur ayam! Tapi kami hanya melihat dengan takjub lalu melewatinya saja…

Strwberry segede telur ayam!

Persis di sebelahnya juga memajang buah berry jenis lain. Kali ini Mulberry. Kami langsung tertarik untuk membelinya. Lumayan untuk kami makan di hotel nanti malam. Harganya pun murah, satu bungkus hanya THB 140 saja beratnya mungkin sekitar 200 gr.

Mulberry

Lalu kami berkeliling lagi, mencicip minuman kesehatan yang berasal dari semacam jamur yang rasanya kalau orang Jawa bilang “ora ngalor ora ngidul” hahaha…
Saya juga mencicip jajanan khas Thailand mirip gula kacang. Versi Thailand isinya terdiri dari campuran kacang tanah, rice crispy, potongan kelapa kering dan wijen dibalur gula aren. Yang ini enak. Saya langsung membelinya sebungkus plastik lumayan besar J..harganya THB 100 saja.
Jajanan Thai, nggak tahu namanya


Ini juga biasa buat dessert

Di bagian bumbu-bumbu, saya dan suami membeli dua jenis bumbu khas Thailand berlogo halal, yaitu bumbu Tom Yam dan Green Curry. Suami saya juga membeli bumbu barbekyu dengan aroma asap kayu hickory.

Asyik sendiri

Lalu kami menuju bagian favorit, yaitu bagian makanan siap santap. Bagai anak kecil, kami langsung antusias berkeliling J..

Banyak sekali varian makanan yang dijual. Ada beragam makanan khas Thailand, makanan Jepang, Barbekyu, konter dessert yang beragam. Saya langsung ngiler melihat Ketan Durian. Langsung saja saya mengambil satu porsi. Ketannya cukup banyak, begitu juga duriannya, satu lonjor durian Bangkok yang gemuk! Yum! Porsinya cukup untuk dua orang. Harganya THB 100 saja!
Kami juga membeli seporsi nasi dengan unagi atau belut khas Jepang dan seporsi nasi dengan ikan mackerel bakar.

Nasi  Unagi

Tadinya saya pikir saya dan suami mau menghabiskan makanan-makanan siap santap ini di dalam supermarket. Tapi karena meja dan kursi yang disediakan penuh terisi pengunjung yang sedang makan, kami akhirnya langsung menuju kasir untk membayar belanjaan kami.

Keluar dari Gourmet Market bukan berarti godaan telah habis. Di sekitarnya banyak sekali gerai makanan yang menggugah selera. Kami melewati gerai yang menjual makanan Korea, barbekyu, Makanan khas Thailand, Kebab dan masih banyak lainnya. Dan yah kami tergoda untuk membeli kebab tentunya hehehe…
Di sebelahnya terdapat foodcourt dengan lebih kurang 20 gerai yang menjual berbagai jenis makanan. Meja kursi yang di sediakan di sekeliling food court hampir semuanya terisi, padahal puluhan jumlahnya. Kami lalu berkeliling melihat-lihat makanan yang dijajakan dan menemukan bahwa cuma ada satu gerai yang menjual makanan halal. Daaan lagi-lagi Nasi Kuning dengan berbagai Kari dan Ayam Goreng Tepung juga martabak khas India. Jadi itulah yang kami pesan. Setelah selasai makan, suami saya tertarik untuk membeli sushi yang didisplay dalam mesin pendingin..bertambah lagi deh jumlah jinjingan yang berisi makanan..hehehe. Sudah saatnya pulang ke hotel kayaknya nih.

Di perjalanan pulang kami masih sempat mampir ke beberapa toko yang menjual beragam pernak-pernik lucu di Siam Center. Melewati keramaian di pelataran  Siam Discovery, melirik butik-butik keren di sana sambil terus berjalan menuju hotel. Kurang lebih jam 4 sore kami tiba di hotel lagi.

Setelah mengambil koper yang kami titipkan, saya minta tolong pada bellboy untuk memanggilkan taksi. Saya bilang pada bellboy itu bahwa kami hendak menuju Hotel Amari Don Muang. Dia bilang oke dan meminta kami menunggu di lobi hotel Mercure yang memang letaknya bersebelahan dengan lobi hotel Ibis ini dan hanya dibatasi oleh pintu kaca saja,  sebenarnya sih kedua hotel ini berbagi bangunan yang sama.

Tak sampai sepuluh menit, taksi sudah ada di depan lobi. Bellboy itu lalu berbicara pada supirnya sepertinya memberitahu tujuan kami. Saya lalu memberi si bellboy tip seadanya lalu bergegas masuk taksi. Karena supir tak bertanya apa-apa kami pun menganggapnya sudah tahu tujuan kami.
Tak lama kamipun memasuki jalan tol dan meluncur  ke arah Don Muang Airport. Jalanan tak semacet seperti pada saat kami baru tiba di Bangkok 2 hari lalu, malah cenderung lancar. Jadi perjalanan terasa dan memang lebih cepat. Ongkosnyapun lebih murah tentunya.

Otw ke Amari Hotel

Lalu saya melihat plang tanda kecil bertuliskan “Amari” di depan sebuah belokan kecil di kiri kami, tapi taksi kami melewatinya. Saya agak curiga tapi diam saja karena berpikir sang supir pastinya lebih tahu jalan dibanding kami. Tak sampai 2 menit kemudian say amelihat tanda “Arrival” di depan saya..waduh kok sudah sampai terminal kedatangan bandara ya? Pasti si supir mengira kami hendak ke Bandara Don Muang. Akhirnya saya cepat-cepat bilang, kalau kami bukan mau ke Bandara Don Muang tetapi ke hotel Amari Don Muang yang letaknya tak jauh dari bandara. Hihihi..si sopir ngomel-ngomel jadinya. Untungnya pakai bahasa Thai jadi okelah wong nggak ngerti ini. Saya langsung bilang bahwa tujuan kami ke Hotel Amari Don Muang. Untungnya belokan untuk putar balik tak terlalu jauh dari sana, jadi tak sampai 10 menit kami sudah tiba di depan hotel. Setelah membayar taksi kami segera menghampiri konter reception.

Seorang receptionist wanita menyapa kami. Saya mengulurkan paspor kami dan berkata bahwa reservasi kami adalah atas nama suami seperti yang tertera di paspornya. Ia lalu mengecek di komputer. Agak lama ia mengetik dan melihat layar lalu berkata bahwa ia tak menemukan reservasi atas nama suami saya. Saya lalu memberinya bukti reservasi kami. Dan ia mulai mengecek lagi, dan lagi-lagi tak menemukannya sampai ia meminta bantuan rekan kerjanya. Tak lama ia menemukannya dan kemudian membawa paspor kami untuk difoto copy, meminta suami tanda tangan di formulir pendaftaran lalu menyerahkan kunci. Tak ada bellboy yang membantu kami membawakan barang, jadi kami langsung menuju lift kemudian naik ke lantai 3 menuju kamar kami.

Kamar hotel Amari, jadul yak!






Sesampai di kamar, kami segera menunaikan sholat ashar dan berencana untuk menghabiskan waktu di kolam renang hotel. Tapi melihat langit yang mendung kami mengurungkat niat untuk berenang, Alih-alih berenang, kami malah makan! Hahaha….
Oh iya, jadi ingat bahwa kami masih menenteng-nenteng sebungkus ketan durian yang kami beli tadi siang. Durian memang benar-benar raja buah ya, baunya itu loh, walau dibungkus dengan 3 lapis tas plastik, tetap saja baunya tembus keluar. Mau kami makan di kamar nanti kena tegur pihak hotel karena baunya kan repot.

Sehabis makan nasi dengan unagi, nasi dengan ikan mackerel dan kebab yang tak kami habiskan karena kebabnya rasanya asiiin, kami berjalan-jalan melihat sekeliling hotel sambil menunggu waktu maghrib. Sebenarnya sih sekalian melihat-lihat spot untuk kami menghabiskan ketan durian hihihi…

Berbeda dengan hotel Ibis yang baru dan minimalis, hotel Amari Don Muang ini adalah hotel lama. Mungkin hotel ini pernah menjadi hotel yang popular di thn 90an. Sejak bandara international dipindahkan ke Suvarnabhumi kemudian bandara Don Muang hanya dipakai untuk bandara penerbangan domestik, kemungkinan hotel ini sempat sepi pengunjung. Tapi sejak tahun lalu AirAsia memindahkan pendaratan pesawat mereka ke bandara Don Muang sehingga hotel ini kembali diminati. Hari ini hotel fully booked. Sebab hotel ini sangat dekat dengan bandara. Dari lantai 2 hotel ada jalan yang menghubungkannya dengan terminal kedatangan bandara Don Muang, hanya butuh 5 menit jalan kaki, tinggal turun dengan lift sampailah ke ruang kedatangan. Sangat memudahkan bukan? Apalagi bagi kami yang akan pulang dengan penerbangan yang sangat pagi jamnya.

Jadi setelah maghrib kami turun lagi ke area lobi. Rupanya tak jauh dari lift, di dekat konter concierge, ada sebuah pintu kecil yang keluar ke bagian samping depan hotel. Dan di sudut luarnya ada sebuah meja serta bangku yang terbuat dari semen. Sudut itu lumayan gelap loh, mana di bawah pohon besar lagi, creepy! J..yang menyebalkan lagi saat menyantap ketan durian yang enak banget itu, (asli, duriannya benar-benar enak dan sudah tanpa biji lagi), eh diganggu oleh nyamuk yang menggigit kaki kami. Suami saya langsung mengajak masuk ke lobi lagi. Akhirnya saya cepat-cepat menghabiskannya, sendiri! Nggak habis sih, sayang yah... Soalnya suami saya sudah terlalu pusing mencium baunya dari tadi sampai jadinya nggak selera untuk menyantapnya.

Ini foto dr samping hotel sehabis makan ketan durian! :D

Akhirnya kami kembali ke lobi setelah itu. Kemudian kami mendatangi konter reception untuk meminta kode akses Wi Fi mereka. Tak seperti di Ibis yang Wi Fi gratisnya bisa kami akses dari kamar, di Amari Don Muang ini kami hanya bisa mengakses Wi-fi gratisnya dari lobi saja, itu pun dibatasi hanya 3 jam saja. Kalau hendak mengakses dari kamar, kami harus membayar paling murah THB 100  untuk 2 jam atau THB 400 untuk 24 jam. Sayang juga kalau harus beli lagi sebab kami hanya punya waktu malam ini saja, esok jam 4 pagi sudah harus check out sebab flight kami jam 6 pagi.

Jadi malam ini kami menghabiskan waktu di lobi saja. Sambil duduk-duduk di lobi, mengakses internet, foto-foto. Di salah satu ruang di dekat kami duduk ternyata sedang ada acara yang sepertinya Prom Night. Banyak anak-anak muda yang sepertinya masih duduk di bangku sekolah menengah berdandan bak orang dewasa. Memakai baju yang terlihat mahal, memakai sepatu berhak tinggi dan lancip, menata rambut ke salon dan sibuk berpose bergerombol atau sendiri-sendiri. Kami berdua langsung sibuk mengomentari mereka. Kebanyakan bajunya memang bagus-bagus dan terlihat keluaran butik, tapi ada pula yang tampak tak cocok untuk bentuk tubuhnya. Ada yang menata rambut dengan natural dan terlihat age appropriate ada juga yang menata rambut mirip Imelda Marcos..hahaha…dasar comel kami ini.

Foto2 di lobby

Masih di Lobby

Lama-lama bosan dan ngantuk juga hanya duduk-duduk di lobi, jadi kami memutuskan untuk kembali ke kamar. Seperti biasa suami saya paling sering merasa lapar kalau sedang liburan. Jadilah ia memboolak-balik menu room service, tapi rupanya tak tertarik untuk memesan. Akhirnya ia hanya makan buah mulberry yang kami beli tadi siang juga sushi yang tadi saya simpan di kulkas kecil dalam kamar. Saya lalu membuatkannya teh panas.

Saya mulai packing lagi, mempersiapkan baju untuk kami pakai pulang besok memasukkan barang yang sudah tak kami pakai lagi, menutup koper lalu menimbangnya. Ya, karena kalau naik maskapai budget seperti AirAsia kami memang selalu berbekal travel scale sekarang. Supaya tak harus membayar kelebihan beban bagasi yang pastinya harganya berlipat ganda pada saat check in. Been there done that hahaha…Alhamdulillah, berat koper hanya 19 Kg sedang bagasi yang kami beli 20 Kg. Aman.

Tak lama saya naik ke tempat tidur, menonton TV sebentar lalu tak tahan menahan kantuk saya pamitan untuk tidur duluan ke suami sambil mengingatkan untuk memasang alarm jam 3.30 dini hari nanti walaupun pada saat check in saya sudah memesan wake up call di jam yang sama.

Good Night, darling…
Good Night, Bangkok..



Day 4 – Monday, 14 January 2013

Jam 4 pagi kami sudah siap check out. Lalu segera naik eskalator di depan konter reception menuju lantai 2 hotel, berbelok ke kanan memasuki lorong jalan penghubung antara hotel dan terminal keberangkatan bandara Don Muang, memasuki lift di ujung jalan sebelah kiri,  turun dengan lift ke lantai dasar, dan bersiap untuk antri bersama penumpang lai. Bandara sudah ramai, antrian juga panjang.

Ngantri check in

Tiga puluh menit kemudian kami sudah mengantri di immigrasi. Pada saat memasukkan barang pada alat x-ray, tas saya sempat diperiksa. Rupanya gara-gara pembatas buku di tas tenteng saya yang terbuat dari besi panjang berbentuk seperti tusuk sate, membuat petugas menghentikan saya dan menyuruh saya mengeluarkan barang-barang di tas itu. Untungnya setelah diperiksa petugas membiarkan saya lewat, Alhamdulillah. Lain kali saya harus ingat kalau bawa buku saat traveling tak boleh membawa pembatas buku dari besi hadiah dari seorang sahabat saat dia pulang dari Argentina itu. Seorang lelaki bule berbadan besar di samping saya tadi sedang bernegosiasi alot dengan petugas sebab ia membawa sebuah barang yang terdiri berbagai berbagai macam tools mini seperti gunting, gunting kuku, pisau, obeng dll merk Victorinox. Entah dia lolos dengan membayar denda atau bagaimana saya tak tahu lagi sebab tak lama setelah urusan denga petugas pemeriksa selesai saya segera beranjak dari sana.

Kontras dengan bangunan luarnya yang terlihat tua dan agak kusam, bagian dalam bandara Don Muang ini bagus, modern, bersih dan sejuk tentunya. Sayangnya tak seperti bandara Suvarnabhumi kami tak menemukan mushola di sana atau mungkin kami yang tak tahu letaknya dan tak sempat bertanya pada petugas bandara.

Beberapa toko oleh-oleh dan restoran juga sudah buka pagi itu. Kami sempat membeli obat di drugstore yang terdapat di ruang tunggu sebab batuk suami saya rupanya semakin menjadi. Kami sempat membeli donat dan minuman untuk sarapan di Dunkin Donat. Lumayan menenangkan perut yang mulai lapar.
Kami boarding tepat waktu. Di luar jendela pesawat, cuaca Bangkok lumayan berawan. Pesawat penuh penumpang dan kami siap pulang ke Bali. So long Bangkok, til we meet again. Alhamdulillah, liburan singkat yang menyenangkan.

Bismillahi tawakaltu alallahi wala haula wala quwata illa billahil alihil adzim, doa saya dalam hati saat take off sambil menggenggam tangan suami.

~The End~