Friday, November 16, 2012

Another Day in Paradise ~ Part 2


Sepeninggal mbak Donna, kami tak segera pulang. Walau libur suami saya tak lupa mengecek pekerjaannya sebentar dan berbincang dengan beberapa staffnya. Karena sudah masuk waktu Ashar, kami kemudian menunaikan sholat Ashar di tempat kerja suami. Kira-kira setengah jam setelah berpisah, mbak Donna menghubungi saya lewat bbm, mengabarkan bahwa mas Feby mengajak kami berdua untuk makan malam di sebuah restoran di kawasan Tanjung Benoa, Nusadua. Kami sepakat untuk bertemu di sana sekitar pukul 7 malam.

Karena tanggung untuk pulang ke rumah, saya dan suami akhirnya sepakat untuk pijat saja di spa langganan kami. Lumayanlah, sejam pijat cukup membuat segar lagi rasanya. Suami saya sangat membutuhkannya setelah hampir sebulan tak libur karena kesibukan pekerjaannya. Segera kami meluncur ke Sunset Road. Sampai di spa langganan saya melihat parkiran dipenuhi banyak kendaraan, wah cukup ramai ternyata sore ini dan benar saja, setelah mendatangi konter penerima tamu, kami rupanya baru dapat tempat pada jam 6.30. Untungnya di sepanjang jalan yang sama, terdapat berderet-deret spa yang bisa kami pilih sebagai alternatif. Kami akhirnya menuju spa yang letaknya persis di sebelah spa langganan. Alhamdulilah walaupun cukup ramai situasi saat itu kami masih kebagian tempat. Sepuluh menit kemudian, terapis kami mempersilakan kami mengikuti mereka ke bagian belakang untuk memulai treatment. Sejam terasa sangat cepat sebab biasanya kami memilih pijat yang berdurasi 2 jam. Setelah selesai pijat kami segera mandi membersihkan sisa-sisa minyak pijat yang melekat di badan. Efek pijat dan mandi rupanya sangat cepat terasa, badan terasa ringan dan tenaga terasa pulih kembali. Merasa bugar lagi, kami berdua segera meluncur lagi ke tempat janjian kami di Tanjung Benoa.

Tak sampai setengah jam kami telah tiba di Laota. Restoran yang tak terlalu besar ini hanya terisi 3 meja dengan tamu yang sedang makan. Sisanya masih kosong. Kami memilih untuk duduk di meja pojok dekat kasir. Karena mbak Donna dan mas Feby belum tiba, kami memilih untuk memesan minuman lebih dahulu. Saya dan suami kompak  memesan teh Oolong. Tadinya kami pikir teh ini disajikan dalam cangkir atau gelas, rupanya disajikan dalam teko keramik yang lumayan besar ukurannya. Dan kami masing-masing memesan 1 teko..kebayang nanti harus menghabiskannya hehehe.
Teh Oolong


Bawaan kalau habis pijat memang suka lapar ya ternyata. Sambil menunggu mas Feby dan mbak Donna, suami saya lalu memesan 2 buah cakwe untuk mengganjal perut sementara. Cakwenya enak, renyah dan tidak terlalu asin. Kami berdua menikmati cakwe renyah ini sambil berbincang santai dan menonton TV yang tersedia di restoran. Tak lama kemudian, mas Feby dan mbak Donna tiba di restoran. Rupanya mas Feby mengundang pula staf-stafnya yang bertugas bersamanya selama di sini. Kami lalu pindah ke meja panjang yang telah dipesan untuk rombongan kami. Sementara itu, tamu-tamu lain mulai berdatangan dan restoran ini semarak dengan suara percakapan dari meja-meja tamu yang terisi.
Si Cakwe yang renyah


Terakhir kami berdua makan di Laota kira-kira setahun yang lalu. Entah kenapa waktu terakhir kali makan di sana kami sepakat buburnya tidak seenak biasa makanya kami lama tak ke sana. Oh iya, kami makan terakhir bukan di Laota Tanjung Benoa tapi di Laota yang di Tuban. Restoran yang selalu ramai ini buka 24 jam.

Saatnya memesan makanan…saya dan suami sepakat memesan semangkok Bubur Seafood kesukaan kami dan Udang Goreng Mayonaisse. Semangkok bubur cukuplah untuk kami bagi berdua. Suami saya juga memesan Telur Pitan, telur yang berwarna hitam tapi bening dan berasa asin, yang enak sekali apabila dimakan bersama bubur.
Bubur Seafood yang seafoodnya tenggelam dalam bubur :D

Sambal Cocolnya

Telur Pitan

Udang Goreng Mayo


Yang lain memesan berbagai macam bubur yang ada di menu. Ada Bubur Pelangi, Bubur Kepiting, Bubur Daging Iris, Bubur Belut. Kami saling berbagi untuk saling mencicipi makanan yang kami pesan. Ada juga yang memesan hidangan Ikan Goreng, Ikan Kukus juga Belut Bumbu Bawang Putih yang menurut kami terlalu dominan rasa bawang putihnya. Daaaan, Teh Oolong kami juga akhirnya habis diminum ramai-ramai..hehehe..
Bubur Kepiting


Malam yang seru.. nice people, good conversation, good food…Alhamdulillah. Tak terasa sudah jam 9 malam. Saking asyiknya makan dan ngobrol kami bahkan tak sadar kalau tadi sempat hujan cukup deras di luar. Untungnya hanya sebentar.

Saatnya pulang. Kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Mas Feby dan mbak Donna dan berjanji akan bertemu lagi pada kunjungan mereka berikutnya bulan depan.


Home sweet home, we’re coming to you….

~The End~

Another Day in Paradise ~ Part 1


Minggu lalu, Mas Feby seorang sepupu suami yang sedang berada di Bali menghubungi kami untuk menemani  mbak Donna, istrinya jalan-jalan. Jadilah kami janjian hari Selasa lalu untuk bertemu di tempat kerja suami di Kuta daripada mbak Donna harus menjemput ke rumah kami yang berada di ujung utara Kuta sedangkan mereka menginap di Nusadua di ujung selatan Kuta. Kami sepakat untuk bertemu jam 9 pagi itu. Alhamdulillah suami saya bisa mengambil libur jadi bisa ikut menemani kami jalan-jalan.

Pagi itu setelah subuh kami berdua mencoba tidur lagi setelah menyetel alarm untuk bangun jam 6.30. Entah kenapa kami berdua malah tak bisa tidur. Padahal malam sebelumnya suami saya pulang kerja sekitar puku 11 malam lebih. Dan ia baru tertidur kira-kira jam 12.30 dini hari. Saya sendiri baru bisa tidur sejam kemudian. Karena tetap tidak bisa tidur sampai alarm berbunyi, saya bergegas bangun untuk berbenah rumah. Setengah jam kemudian suami saya bersiap mandi, saya menyusul setelahnya. Jam 8 kami telah siap berangkat ke Kuta. Pagi itu lalu lintas lancar dan tak terlalu padat. Tak sampai 30 menit kami sudah sampai di Kuta. Rupanya karena mampir untuk beli oleh-oleh di pusat oleh-oleh terkenal di Tuban, mbak Donna baru sampai pukul 10. Selama waktu menunggu karena tak melakukan kegiatan yang berarti kami mulai terserang rasa mengantuk. Jadilah kami memesan kopi untuk melawannya dan menikmatinya sambil duduk-dukuk di dek restoran yang menghadap Pantai Kuta. Walaupun mengantuk tapi tak mengurangi jiwa narsis tentunya hahaha…
Pantai Kuta di pagi hari

Narsis berdua suami :D

Setelah mbak Donna tiba, tanpa buang waktu kami segera meluncur menuju Ubud. Tujuan pertama kami adaah mencicipi kuliner lokal di Ubud. Sama seperti saya dan suami, mbak Donna ternyata juga hobi makan. Karena belum pernah mencoba makanan lokal khas Ubud, jadilah kami membawanya untuk mencicipi Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Terletak di desa Kedewatan, kira-kira 10 menit dari pusat keramaian Ubud. Anda tak akan mungkin tersasar, sebab dari beberapa restoran penjual makanan sejenis, tempat ini yang paling terkenal. Banyak mobil yang parkir di pinggir jalan di depan restoran ini yang terkadang membuat lalu lintas tersendat.

Kami kemudian masuk ke dalam restoran, dan memilih untuk duduk lesehan di dalam daripada duduk di kursi dan meja yang tersedia di bagian depan restoran. Kami lalu memesan 3 porsi nasi ayam dan minuman. Saya meminta tambahan sayuran lawar disediakan di piring terpisah. Lawar adalah urap sayur khas Bali yang disajikan dengan parutan kelapa bakar. Ada banyak macam lawar tapi di restoran ini memakai kacang panjang sebagai bahan utama.
Nasi ayamnya sendiri terdiri dari nasi putih dalam porsi lumayan besar, lawar kacang panjang, sambal khas Bali yang digoreng, sate lilit, ayam sisit, kacang goreng dan gorengan kulit ayam serta bawang goreng sebagai taburan.
Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku


Sehabis makan kami segera meluncur ke arah pusat Ubud menuju salah satu museum lukisan yang terkenal di Ubud yaitu Blanco Renaissance Museum. Saya sendiri sudah lama sekali tak mengunjungi museum ini, mungkin sekitar 7 atau 8 tahunan. Dari area parkir mobil, seorang petugas sekuriti mengucapkan salam lalu mempersilakan kami masuk ke sebuah pondok kecil kemudian mengarahkan kami ke piintu masuk yang terbuat dari kayu menuju loket untuk membeli karcis masuk. Karcis masuknya tak terlalu mahal, bagi wisataan domestik 30 ribu rupiah per orang, sedang bagi wisatawan asing 50 ribu rupiah. Setelah membeli karcis, kami bertiga segera masuk. Petugas karcis memberi tahu bahwa kami dipersilakan untuk menikmati welcome drink di restoran Ni Rondji. Tapi kami memutuskan untuk menikmatinya setelah puas mengelilingi museum nanti.

Museum yang menyimpan lukisan pelukis Spanyol Don Antonio Blanco dan Mario Blanco sang anak, menempati lahan yang cukup luas dan hijau menghadap sungai Campuhan. (Oh iya, Yang perlu diingat apabila anda hendak berkunjung ke sini adalah lukisan sang maestro lebih banyak untuk konsumsi orang dewasa karena banyak menampilkan keindahan tubuh wanita, kurang cocok bagi anda yang berlibur membawa anak di bawah umur 17 tahun). Banyak dari lukisan sang maestro yang memakai sang istri, Ni Rondji sebagai obyek lukisannya, juga anak mereka. Lukisan potret diri sang maestro  dan beberapa keluarga serta kerabat pun terpajang di sana. Lukisan-lukisan itu dibingkai dengan figura yang indah hasil rancangan sang maestro sendiri. Di bagian tersendiri dari museum juga terdapat hasil karya berupa kolase  dan karya-karya yang lebih ‘dewasa’ lainnya. Di dekat pintu keluar terdapat pula foto-foto keluarga sang Don.
Blanco Renaisance Museum

Narsis dengan mbak Donna di pintu masuk museum
Di taman museum terdapat berbagai macam burung cantik berbulu indah. Karena cukup jinak, petugas biasanya menawarkan apabila anda ingin berfoto dengan burung-burung cantik itu.






Di bagian lain, ada toko souvenir apabila anda ingin membeli oleh-oleh. Di sini ada sudut yang unik karena menyimpan koleksi telepon, kamera, mesin hitung dan mesin ketik yang semuanya antik. Dan kita bisa berfoto di situ. Satu lagi sudut yang menarik adalah kita bisa berpose a la pelukis karena tersedia kanvas dengan dudukannya, palet serta berbagai ukuran kuas untuk kita bergaya menjadi pelukis. Saya dan mbak Donna bergantian bergaya pura-pura menjadi pelukis hahaha..Seru! Di dalam museum kita tidak boleh mengambil foto. Hanya di bagian luar saja yang boleh. Tapi ada loh yang nekad. Beberapa turis berbahasa Cina dengan santainya berfoto di bagian atas museum padahal sudah jelas ada tanda larangannya. Tentu saja mereka lalu ditegur keras oleh petugas keamanan.
Pose di depan kamera antik


Akting melukis :D

Setelah puas berkeliling, kami segera menuju restoran Ni Rondji untuk menikmati suguhan welcome drink. Terakhir saya ke sini, restoran ini belum ada. Sampai sana hanya ada satu meja yang terisi, jadi kami leluasa untuk memilih meja. Karena matahari masih terik bersinar, kami memilih untuk duduk di bagian restoran yang beratap. Padahal sofa-sofa di dek lebih mengundang untuk diduduki.  Pagar besi menghiasi pinggiran restoran dengan aksen kayu bersiluet lenggokan badan Ni Rondji saat menari. Memang Ni Rondji adalah seorang penari di istana Tampak Siring pada jaman pemerintahan Presiden Sukarno. Kepiawaiannya menari diwariskan pula kepada ketiga putrinya. Restoran yang cukup luas ini cantik berhiaskan banyak anggrek bulan. Dari petugas restoran kami tahu bahwa Mario Blanco ternyata memiliki lahan pengembangbiakan anggrek di area ini tapi kamitak sempat melihat-lihat ke sana. Oh iya, anggrek-anggrek cantik itu juga bisa anda beli loh.

Tak lama, petugas restoran segera menghidangkan 3 gelas minuman dingin beraroma kopi karamel, wah segar! Cuma butuh semenit minuman dalam gelas pendek itu kami habiskan. Yang tadinya hanya berniat untuk melihat-lihat menu makanan saja akhirnya kami memesan juga menu makanan penutup. Mbak Donna memilih cake yang di dalamnya terdapat coklat meleleh yang disajikan dengan es krim vanilla dan potongan buah stoberi. Suami saya memilih hidangan penutup khas Perancis yang ternyata belum tersedia pada jam itu. Akhirnya karena suami saya tak jadi memesan apa-apa, saya yang akhirnya memesan jajanan khas lokal yangg terdiri dari beberapa jenis dalam satu porsi, ada bubur Injin, godoh alias pisang goreng serta sumping sejenis nagasari tapi berisi nangka. Mbak Donna rupanya tertarik untuk mencoba bubur Injin alias bubur ketan hitam dengan siraman santan di atasnya. Saya sendiri penggemar sejati pisang goreng hehehe…sayang, saking asyiknya ngobrol dan icip-icip, saya lupa mengambil foto menu yang kami pesan.
Salah satu sudut Restoran Ni Rondji

Berdua mbak Donna berlatar perbukitan Ubud


Tak terasa sudah jam 3 sore lebih. Karena mbak Donna harus kembali ke hotel sebelum jam 5, kami segera meluncur ke arah Kuta lagi. Kurang lebih sejam kami tiba di Kuta. Setelah mengucap salam perpisahan dan berjanji akan ketemu lagi dikunjungan berikutnya, Mbak Donna segera meluncur kembali ke Nusadua.

~Bersambung ke part 2~

Thursday, November 8, 2012

Panen Belimbing Wuluh


Kemarin sore saat menyiram tanaman di halaman depan rumah, saya baru sadar ternyata pohon belimbing wuluh kami berbuah sangat banyak. Buahnya banyak juga yang berjatuhan karena sudah terlalu masak. Sebagian jatuh ke pot tanaman melati yang sengaja saya taruh di bawah pohon belimbing wuluh ini supaya tak terkena sinar matahari langsung yang lagi garang-garangnya bersinar di langit Bali. Setelah selesai menyiram, saya mulai memetik buahnya. Wow..asli benar-benar berlimpah buah pohon yang satu ini. Saya dapat setampah penuh buah. Ini baru sebagian saja, hanya yang bisa saya jangkau dengan tangan saya saja. Sebagian lain masih banyak tergantung di dahan pohon yang tak terjangkau tangan saya.

Hasil panen :)

Nah sekarang PR-nya mau diapain ya buah sebanyak ini? Saat saya posting foto hasil petikan saya di laman facebook saya, ada teman yang komentar untuk dibuat sambal yang dimakan dengan ikan bakar dan diolah sebagai manisan. Saya segera saja googling resepnya. Ada dua yang menarik untuk dicoba, dibikin sirup dan manisan. Saya memutuskan untuk membuat sirup terlebih dahulu walaupun tadinya saya ingin sekali membuat manisan. Masalahnya saya tak punya kapur sirih sebagai salah satu bahan pengolahan manisan. Harus ke pasar dulu. Dan lagi, proses membuat manisan sesuai resep yang saya dapat di internet jauh lebih lama, bisa berhari-hari. Ya sudahlah, mari kita buat sirup saja dulu.

Sirup Belimbing Wuluh

Bahannya
1 Kg   Belimbing Wuluh
2 Kg   Gula Pasir
1 Lt   Air         

Caranya :
Belah belimbing menjadi 4 memanjang, buang bijinya. Kemudian kukus selama 5 menit, dinginkan. Blender sampai halus kemudian saring.
Rebus air sampai mendidih, masukkan gula aduk hingga larut kemudian saring.
Masukkan belimbing wuluh yg telah disaring dalam larutan gula, rebus sampai mendidih. Buang busanya.
Tuang sirup dalam botol yang sudah disterilkan. Tutup rapat selagi panas. Setelah dingin simpan dalam kulkas.

Sudah dibuang bijinya dan dibelah

Setelah dikukus 

Sangat mudah membuatnya. Proses paling lama menurut saya Cuma pada saat membuang bijinya dan menyaring setelah diblender. Sisanya sih mudah dan cepat. Menikmatinya tinggal dicampur air sesuai selera, jadilah sirup belimbing wuluh buatan sendiri.

Sirup Belimbing Wuluh yang sudah jadi. Kurang lebih 2.5 Lt

Rasanya? Kalau menurut lidah saya sih, sirup ini agak terlalu manis, jadi rasa asam buahnya tidak terlalu terasa. Jadi kalau anda tidak terlalu suka manis seperti saya, silakan eksperimen dengan mengurangi gulanya 500gr. Mungkin akan terasa lebih segar karena masih terasa kecutnya buah belimbing wuluh.

Nah untuk resep sirup di atas, saya mencoba menyajikannya dalam 2 cara. Pertama, saya mencampur segelas sirup dengan potongan 1 buah belimbing wuluh, mengaduk dan membiarkannya sebentar baru meminumnya. Lumayan rasanya lebih segar karena tambahan rasa kecut dari potongan buah.
Yang kedua, karena saya punya persediaan daun mint di kulkas, jadi saya coba mencampurnya. Saya ambil beberapa lembar daun mint, setengah potong buah belimbing wuluh, kemudian menumbuknya kasar dalam gelas kemudian menuanginya sirup belimbing wuluh. Rasanya segar sedikit kecut dan minty. Cocok untuk cuaca yang panas membara ini..:)


Selamat mencoba.

Monday, November 5, 2012

R.O.M.A.N.S.A


Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan seorang teman yang saya kenal melalui media pertemanan facebook, cerita tentang suka duka kehidupan pernikahannya. Ceritanya sangat menarik dan membuat saya tertawa. Catatan itulah alasan saya menulis ini, terpengaruh nostalgia, mengenang saat-saat pacaran, menjelang acara pernikahan dan suka duka saya dan suami hingga sekarang. Romansa.

Sampai tahun-tahun awal mulai bekerja, saya tak pernah membayangkan akan menikah muda di umur 26 tahun (at least, versi saya umur segitu masih terhitung muda hehehe). Bahkan saya tidak pernah membayangkan apakah saya benar-benar akan bertemu jodoh saya dan akhirnya menikah. Sejak masih di bangku SMA saya merasa bahwa hidup sendiri bukanlah hal yang menakutkan sama sekali. Jadi kalau saya akhirnya memutuskan untuk menikah, itu adalah lompatan sekaligus kejutan terbesar dalam hidup saya.

Orang tua saya juga tak kalah kagetnya. Saya tak pernah mengenalkan seorangpun pacar-pacar terdahulu saya pada kedua orang tua, kecuali yang sekarang jadi suami saya. Cukup mengherankan orang tua saya sebab teman saya banyak, apalagi teman lelaki saya lebih banyak dari teman wanita.

Saya bertemu dengan suami di Semarang, saat saya melamar pekerjaan di tempat ia bekerja. Bisa dibilang ini cinta pada pandangan pertama, tak masuk akal memang baru pertama kali ketemu sudah jatuh cinta tapi suami saya lebih ekstrim lagi, ia bilang ia sudah naksir saya sejak pertama kali melihat foto saya di curriculum vitae yang saya kirim ke perusaahan itu..hahaha.. Padahal di foto itu rambut saya super cepak, maklum saya dulunya super tomboy.

Kira-kira satu setengah tahun kami pacaran sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Sebagian besar dari waktu itu kami lewati dengan banyak tawa, merasa telah menemukan yang selama ini kami cari dari seorang pasangan. Perselisihan kami yang terberat adalah perselisihan yg terjadi sebelum pernikahan yang membawa kami pada kompromi yg lebih baik. Pilihan kami saat itu andai tak menemukan kesepakatan adalah berpisah dan tak melanjutkan rencana pernikahan. Bersyukur kami berhasil melewati saat-saat berat itu.

Dengan gagah berani ‘mantan’ pacar saya yang satu ini berangkat sendirian ke Jakarta menemui ayah saya untuk melamar saya dengan hanya berbekal tekad dan janji bahwa ia akan membahagiakan saya. Dan diterima!!..

Lalu dimulailah segala kerepotan-kerepotan persiapan pernikahan itu. Selayaknya pasangan yang hendak menikah, tentunya kami mempunyai impian tersendiri tentang prosesinya. Sebenarnya menikah adalah keputusan yang separuhnya kesepakatan berdua, separuhnya lagi nekad. La wong pada saat itu kami sama-sama jobless. Mau makan apa kami setelah menikah? Well, let’s think about that when the time comes. Yang penting kami telah mendapat restu dari orang tua ..hehehe…

Bisa ditebak, biaya pernikahan kami sepenuhnya ditanggung oleh orang tua. Harus tahu diri tentunya. Untungnya kami cukup realistis, karena tadinya kami hanya ingin yang sederhana saja. Namun kami tentu saja tak bisa begitu saja mengesampingkan keinginan orang tua.
Untuk urusan tertentu saya dan calon suamilah yang sibuk wira-wiri. Saya ingat, kebaya untuk akad nikah kami beli di Pasar Tanah Abang, seharga 125 ribu saja. Juga sepasang kain batik berprada. Baju untuk resepsi kami beli di sebuah toko tekstil di Solo. Kain batik murah meriah motif kawung untuk dekorasi kamar pengantin kami beli di Pasar Klewer. Jangan tanya di mana kami menjahitkannya.
Untuk baju akad nikah, kami menjahitkannya di Solo, di kerabat seorang sahabat dekat, sedang baju untuk resepsi kami jahitkan di Semarang, langganan seorang tante di tempat sepasang suami istri tuna rungu dan tuna wicara yg sangat inspiratif. Keperluan kamar pengantin sebagian kami jahitkan pada tetangga di Salatiga, sebagian lagi dijahitkan seorang tante di Jakarta. Ckckckck…..repot sekali sepertinya ya..hahaha…

Undangan dan souvenir produksi massal kami beli dari Semarang. Undangannya bergambar bunga-bunga warna-warni yang diprotes oleh bapak saya. Katanya kurang bagus. Kalau kata saya sih itu yang murah dan cukup oke diantara yang lain-lain hehehe. Kalau tidak salah ingat kami memesan 300 undangan, lagi-lagi diprotes oleh bapak saya. Katanya nggak cukup untuk mengundang koleganya. Maklum, sayalah yang menikah pertama di keluarga kami. Jadilah abang saya yang sibuk mencetak 200 lembar undangan lagi dua minggu sebelum hari H. Tentu saja ibu saya juga jadi ikut sibuk membeli suvenir tambahan dari Pasar Jatinegara karena sudah tak cukup waktu memesan suvenir yang sama.

Urusan mencari penghulu di KUA Purwokerto jadi urusan abang dan seorang kerabat dekat. Kami, sang calon pengantin hanya diminta untuk menyiapkan syarat administrasi dan hanya sekali saja datang ke sana untuk mengambil surat rujukan untuk pemeriksaan kesehatan.

Urusan dukun manten alias perias pengantin adat Jawa menjadi tanggung jawab ibu saya dan seorang tante. Sampai sebelum malam midodareni saya malah nggak ketemu si ibu dukun manten ini. Baru memikirkan muka dirias tebal dan rambut ditarik kencang-kencang untuk disanggul sudah membuat saya kurang antusias. Saya malah sibuk mencari salon lain untuk keperluan malam resepsi yang memang temanya lebih kasual. Dan benar saja, saya malah akhirnya lebih banyak tidak sependapat dengan si ibu dukun manten. Saya bilang padanya, saya tidak mau anak rambut di dahi saya dicukur untuk nantinya digambari atau dipaes istilah Jawanya. Walaupun akhirnya setelah dibujuk saya mau mencukurnya sedikit saja dan meminta si ibu dukun manten untuk menggambarnya tipis-tipis. Saya tadinya juga nggak mau dipasangi sunduk pentul atau tusuk sanggul yang berjumlah ganjil di sanggul saya. Walau akhirnya mengalah karena melihat wajah ibu saya yang sudah terlihat jengkel karena bolak-balik berusaha untuk membujuk saya hehehe…
Jangan heran sebelum prosesi adat selesai, si ibu dukun manten pamitan pulang. Ibu saya lumayan panik jadinya, tapi saya santai aja tuh, kan hairstylist dan make up artist sudah saya siapkan khusus untuk resepsi malam harinya. Walaupun sebenarnya sempat panik karena ternyata saya masih harus pakai kebaya sekali lagi pada saat memasuki tempat resepsi. Masalahnya saya nggak bisa pakai kain batiknya sendiri. Untungnya ada ibu mertua saya yang dulunya biasa merias pengantin. Fiuh…selamat…hahaha

Berpose di kamar pengantin setelah akad nikah :)
Akad nikah berlangsung hikmat dan lancar, alhamdulillah. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa acara adat seperti sungkeman dan lainnya. Malamnya barulah acara resepsi dilangsungkan.

Saya juga mengingat kehadiran sahabat-sahabat terdekat kami yang datang dari berbagai tempat yang jauh untuk mendoakan  kami, sungguh malam yang sangat membahagiakan bagi kami berdua. Mengenang acara resepsi sering membuat saya tersenyum sendiri. Saya mengingat ayah saya yang ingin cepat-cepat turun dari panggung pengantin karena ingin segera bisa merokok. Berbekal asbak kecil di saku jasnya, dia serta merta turun mencari pojokan aman untuk merokok setelah melihat tak terlalu banyak tamu lagi yg hendak bersalaman. Lalu kembali tergopoh-gopoh naik lagi untuk menyalami segerombolan tamu lain yang baru datang sambari menebar aroma tembakau yang baru selesai dihisapnya sesaat lalu hehehe...ayah saya memang perokok berat. Kami sering meledeknya setiap kali melihat fotonya di berbagai kesempatan yang tak lepas dari rokok di sela-sela jemarinya. Kecuali foto-foto pada saat beliau sedang berdinas tentunya J.
 
Acara resepsi malamnya :)

Lalu, acara resepsi malam itu juga seperti konser band indie. Pasalnya adik-adik saya punya band masing-masing yang ingin tampil menghibur malam itu. Belum lagi band adik sepupu saya. Seingat saya ada 4 band berbeda aliran malam itu yang akhirnya tampil. Salah satunya beraliran rock! Tentu saja para sesepuh cukup bengong dan bingung melihatnya…hahaha…untung saja ada band terakhir yang cukup bisa mengakomodir selera para sesepuh. Maklum saja, keluarga besar kami doyan nyanyi dan dansa-dansi.. J

Saya juga masih mengingat kekhawatiran banyak orang tentang cuaca pada malam resepsi. Bulan November memang sudah masuk musim penghujan, sedangkan acara resepsi pernikahan kami berlangsung di luar ruangan, di sekeliling kolam renang sebuah hotel. Walau sempat mendung hari itu, tapi malam saat resepsi berlangsung sang bulan ternyata muncul.. bulat, terang dan sangat indah..Masya Allah.

Setelah acara berakhir, saya dan suami baru sadar kami makan sedikit sekali malam itu. Pasalnya hidangan kambing guling yang kami incar sudah habis duluan disikat para tamu undangan..hahaha…alhasil malam itu kami pesan nasi goreng dari room service saking laparnya.



Well, Itu terjadi selusin tahun yang lalu, ya 12 tahun lalu!!...alhamdulillah. Kami berhasil melewati 12 tahun ini dan semoga berlusin tahun lagi di depan kami.

Berdua saja, tak mengurangi kebahagian kami. Saya masih sering merasa kangen tiba-tiba kalau tidak berada di dekatnya. Mendengarnya berkata tempat paling nyaman adalah berada di dekat saya sungguh menyejukkan hati. Waktu yang berlalu selama12 tahun ini jadi terasa singkat sekali…

Happy anniversary, my dear hubby..
Terima kasih untuk kasih sayang, cinta dan persahabatan ini. 
I love laughing and giggling and being silly with you, it makes me love u even more.

You are one of a kind.

Saturday, November 3, 2012

A cake for a Special Moment

Ini salah satu cake kegemaran suami saya. Saya sedang berpikir untuk membuatnya untuk wedding anniversary kami yang jatuh hari Senin lusa, kalo nggak malas. Karena akhir-akhir ini saya sedang agak malas bikin cake..bukan apa-apa, takut badan lebih melar aja hahaha.. soalnya saya suka sekali ngemil..:P

Anyway, ini dia resepnya kalau mau nyobain :




Lemon & Kenari Pound Cake

Bahan :

200 gr Butter (unsalted)
200 gr Gula Halus
3 pcs  Telur
200 gr Tepung terigu
60 gr   Kenari cincang kasar
1 sdm  Vanila extract (optional)
3 - 4 sdm  Jus Lemon 
1 sdm  Lemon zest (parutan kulit jeruk dr 1 buah lemon)

Caranya :


Kocok butter dan gula halus sampai lembut, masukkan telur satu persatu. Tambahkan terigu, jus lemon, lemon zest dan jus lemon, vanilla extract. Panggang dalam oven sampai matang.


Setelah kue dingin, oles permukaan cake dengan campuran 3 sdm jus lemon dan  3 -4 sdm gula halus, aduk sampai gula larut. Oleskan berulang kali.


Selamat nyobain.







Friday, November 2, 2012

Small Reunion

Sudah sejak dua minggu lalu sahabat saya sejak kuliah Lili memberitahu kalau dia akan berada di Bali untuk sebuah acara. Seperti biasa kami selalu janjian untuk jalan bareng atau sekedar bertemu kalau waktunya singkat. Kali ini karena bukan dalam rangka liburan, ia memberitahu saya kalau dia hanya memiliki waktu singkat untuk bertemu, Jum'at 2 November after lunch, hanya itu katanya free time yang dimiliki di sela kegiatan yang padat. Saya bilang, siplah..saya janji utuk mengatur pertemuan dengan beberapa teman yang tinggal di Bali. Iin, Maya dan Meii menyetujui untuk bertemu di kawasan Kuta.

Namanya reuni, walaupun kecil-kecilan, nggak sah kalau nggak ada acara foto-foto, maklum perempuan..:D Ini dia sebagian dari foto-foto kami :












Berdiri : Meii, Saya
Duduk : Lili, Iin, Maya

Walaupun nggak lama, karena Lili harus kembali ke hotel untuk acara gala dinner, tapi pertemuan kami hari ini tetap seru, ketawa-ketiwi mengenang kejadian waktu kuliah dulu. Panasnya udara Bali yang luar biasa tak  menghalangi kami untuk tetap eksis bergaya di foto hahaha....Thanks gals, it was nice meeting you all. xoxo


Thursday, November 1, 2012

On the Hottest Days

Sudah masuk bulan November, tapi Bali masih panasnya luar biasa. Di beberapa hari dalam dua minggu terakhir kabarnya suhu terpanas mencapai 42 derajat Celcius!! Kebayang kan panasnya?!... Paling enak emang ngadem di rumah sambil nyalain AC kenceng-kenceng sambil bikin Frozen Yogurt. Kan lagi musim mangga sekarang, yuk mari kita bikin Mango FroYo

Mango with homemade mango froyo



Homemade Mango Froyo

Bahannya :
2     pcs       Mangga ukuran Sedang ~ blender sampai halus
250 ml         Yogurt Plain
250 ml         Yogurt Vanilla
250 ml         Cooking Cream

Caranya :
Mixer cream sampai mengembang, masukkan mangga yg sudah dihaluskan dan yogurt, aduk rata.
Dinginkan di freezer. Setelah beku, keluarkan dari freezer, kerok dengan garpu/sendok, mixer sampai
meleleh, bekukan lagi. Paling tidak ulangi proses ini 2 - 3 kali sehingga tekstur froyo menjadi lebih halus.

Ada satu froyo lagi yang jadi favorite saya dan suami, yaitu Ginger Froyo. Ini dia :

Kiwi with homemade mango & ginger froyo

Homemade Ginger Froyo

Bahannya :
100 gr         Jahe Gajah ~ cincang halus
 50 gr          Gula pasir
200 ml        Air
~ Campur ketiga bahan di atas, masak di atas api kecil, sampai air hampir habis, dinginkan ~
250 ml        Yogurt Plain
150 ml        Yogurt Vanilla
250 ml        Cooking Cream

Caranya :
Mixer cream sampai mengembang, tambahkan jahe dan yogurt, mixer sampai tercampur rata. Dinginkan di freezer. Setelah beku, keluarkan dari freezer, kerok dengan garpu/sendok, mixer sampai
meleleh, bekukan lagi. Paling tidak ulangi proses ini 2 - 3 kali sehingga tekstur froyo menjadi lebih halus.

Selamat mencoba ya!