Thursday, November 29, 2012

Vacation with BFF ~ Part 3 (Singapore Trip 28-30 April 2012)


Bus kami tiba tepat waktu..tapi ada tapinya, bus ini ternyata lebih jelek dari bus kami dari KL ke Melaka kemarin! Kami cuma saling pandang sambil tersenyum kecut, mau apalagi, kami sudah terlanjur membeli tiket hiks…nasib. Yang penting kami bisa segera tiba di Singapura.

Dalam bus busuk otw ke Singapore :D
Seperti kemarin saya duduk sebelahan dengan Metta, Lili di deretan bangku sebelah kami. Walau bus ini masuk kategori jelek, tapi sebenarnya tak terlalu buruk. Masih dalam hitungan bersih untuk bus jelek ukuran kita di Indonesia. Dan yang penting, AC-nya nyala terus walau agak panas, penumpang tak berjubel dan tidak ada pedagang asongan yang seliweran dan teriak-teriak menawarkan dagangan.
Sepanjang perjalanan tak banyak yang bisa dilihat, hanya perkampungan penduduk. Keluar dari Melaka, bus mulai memasuki jalan bebas hambatan. Pemandangan paling sering adalah perkebunan sawit dan karet, membosankan. Mana bus ini jalannya santai pula, ah well.. just enjoy the ride.

Dalam bus kami sibuk menghubungi keluarga kami masing-masing. Metta menelpon suami dan anak-anaknya untuk menghabiskan pulsa sebab paket bb dari provider seluler Malaysia-nya tak akan bisa digunakan di Singapura, pulsanya akan hangus percuma apabila tidak dipakai. Saya sendiri tadinya memakai paket bb gratis 3 hari dari provider seluler Indonesia yang saya pakai, dan hari ini sudah tidak bisa digunakan lagi. Metta baik hati mengijinkan saya pakai handphonenya supaya saya bisa mengabari dan mengobrol dengan suami saya. Saya bilang pada suami bahwa handphone saya sementara tak bisa dihubungi  tapi saya berjanji segera setelah sampai di Singapura saya akan mengabarinya lagi. Saya melirik Lili di samping, dia juga sedang sibuk dengan handphonenya dan tak berapa lama kemudian memejamkan matanya. Saya dan Metta pun menyusul tertidur tak lama kemudian.

Perhentian bus somewhere in Malaysia
Rupanya bus kami ini berhenti untuk rehat setelah kurang lebih 1.5 jam jam perjalanan. Saya lupa di mana berhentinya, sepertinya di daerah Batu Pahat, entahlah saya tak ingat. Bus memasuki area parkir sebuah bangunan yang cukup luas. Hampir semua penumpang kemudian turun, termasuk kami. Rupanya bangunan ini adalah sebuah bangunan yang terdiri dari sebuah foodcourt dan sebuah supermarket. Kami berkeliling sebentar melihat-lihat apa yang ditawarkan foodcourt ini. Karena tadi kami sudah makan siang di terminal Melaka Central, kami hanya membeli minuman dan buah-buahan untuk cemilan.
Kami juga melihat-lihat supermarketnya. Walau barang kami sudah banyak, tak mengurangi niat kami untuk belanja, maklum perempuan hehehe. Saya sendiri membeli 2 botol kecil yang berisi biskuit biji labu dan biji matahari organik. Rasanya enak ternyata dan sesampai di Indonesia menyesal sebab hanya membeli 2 botol saja J. Saya juga membeli bumbu jadi untuk ikan kuah asam pedas seperti menu makan malam kami tadi malam dan sebungkus bumbu kari a la Nonya. Bumbu ikan kuah asam pedasnya lumayan enak sedang bumbu karinya masih utuh belum saya masak hehehe.
Kurang lebih 30 menit kami istirahat di tempat itu lalu bus berangkat lagi melanjutkan perjalanan. Kira-kira 1.5 jam kemudian kami tiba di Johor Bahru. Setelah berhenti di terminal bus sebentar, bus melanjutkan perjalanan lagi menuju Johor Bahru – Singapore immigration check point.

Karena mengira kami orang asli Malaysia, pada saat membagikan kartu kedatangan dari immigrasi di dalam bus sebelumnya sang supir bus tak membaginya pada kami bertiga. Kami sendiri tak bertanya-tanya, malah saya membatin “oh mungkin hanya bagi warga Malaysia saja”. Bodohnya! Saya lupa siapa yang akhirnya bertanya pada supir bus, sambil mengomel ia lalu memberi kami 3 kartu. Kami cuma senyum kecut. Karena check point sudah dekat kami terburu-buru mengisinya. Belum selesai mengisinya karena susah menulis di dalam bus yang terguncang-guncang, bus telah parkir dengan manisnya untuk menurunkan kami melewati pemeriksaan. Sang supir, lagi-lagi, terheran-heran dengan bagasi kami yang banyak itu. Dengan tak berbelas kasihan dia berkata bahwa kami hanya punya waktu 20 menit untuk melewati pemeriksaan bea cukai dan imigrasi kemudian harus menyeret barang kami yang banyak serta pantat kami yang tak kalah berat juga untuk menuju parkiran bus lalu naik. Kalau tidak, tiada ampun kami akan ditinggal dan dipersilahkan naik bus kota setelahnya. Arrghh…..menyebalkan! Dengan muka manyun dan jengkel namun tak punya pilihan, kami berbagi beban bagasi dan berjalan setengah berlari untuk menuju antrian pemeriksaan. Kami bahkan tak sempat menoleh kiri kanan karena sibuk dengan bagasi yang berat serta kepikiran bahwa kami masih belum selesai mengisi kartu kedatangan. Jadi kami bagai beo membuntuti orang yang berjalan di depan kami saja. Mana jalannya lumayan jauh pula..hadeh..nasib..nasib!

Akhirnya sampailah kami pada loket antrian, melewati imigrasi Malaysia tak ada masalah sama sekali, sangat cepat prosesnya. Pada saat mengantri untuk masuk Singapura, sambil repot menyeret bagasi, kami juga sibuk mengisi kartu kedatangan sambil bergantian meminjam bolpen. Lalu tiba bagian mengisi alamat menginap kami selama di Singapura, saya dan Lili segera menoleh dan bertanya pada Metta. Agak panik, Metta bilang bahwa alamat apartemen kakak sepupunya tempat kami menginap nanti, ada di dalam bb-nya yang mati kehabisan baterai. Wah..makin panik saja kami. Untung saya ingat kalau saya membawa baterai portabel untuk situasi darurat. Segera saya serahkan ke Metta supaya ia dapat menyalakan bb-nya. Lili yang mengantri di line sebelah kami rupanya sudah berada di depan petugas, dan tentunya sang petugas menanyakan alamat itu. Begitu bb-nya menyala, Metta yang masih tergopoh-gopoh menulis sebab gilirannya sudah hampir tiba segera mendiktenya pada kami berdua yang cepat-cepat menulisnya di kartu. Kebayangkan tulisan saya pastinya seperti cakar ayam karena menulis sangat cepat. Apalagi saya mengantri di belakang Metta. Untungnya sang petugas itu tak bertanya macam-macam dan kami cepat melewati pemeriksaan. Tapi perjuangan belum berakhir. Kami masih harus menyeret barang-barang kami lagi dengan setengah berlari untuk menuju parkiran bus dan naik dalam bus sebelum 20 menit berlalu. Lagi-lagi jalannya jauh, musti turun satu lantai pula. Setelah sampai bawah, kami ternyata turun di sisi yang salah dan harus memutar lagi kemudian menyeberang di antara seliweran bus-bus lain untuk menuju ke bus kami. Fiuh…Alhamdulillah kami tak ditinggal, bus kami masih parkir di sana. Terengah-engah dan keringatan, kami segera memasukkan barang kembali ke bagasi. Sang supir taksi di luar dugaan sekarang tersenyum lebar pada kami, padahal tadi ngomel-ngomel, mungkin karena kami tak terlambat. Lalu kami meminta ijin padanya untuk ke toilet sebentar. Dia kemudian menunjuk di mana toilet berada dan meminta kami untuk cepat. Lega rasanya…Baru deh kami bisa menertawakan kesialan dan kebodohan kami tadi sambari mengutuk supir bus..hahaha..

Memasuki Singapura perjuangan tetap belum berakhir juga ternyata, di Woodlands lalu lintas padat merayap sore itu. Bus berjalan sangat pelan. Sebagian warga Singapura mungkin ada yang baru pulang kerja, sebagian yang lain hendak menghabiskan malam minggu padahal waktu baru menunjukkan sekitar pukul 5-an. Kurang lebih 45 menitan baru kami tiba di tempat pemberhentian kami di depan sebuah mall kecil (saya lupa tepatnya di mana). Lalu segera mencegat taksi untuk menuju ke apartemen kakak sepupu Metta. Sekitar jam 6.30-an kami tiba di sana.

Sampai di sana, merasa gerah saya kemudian segera mandi. Kedua sahabat saya itu sepakat untuk mandi setelah kami pulang jalan nanti. Jam 7-an kami siap jalan lagi. Kami berjalan kaki ke stasiun MRT Lorong Chuan yang tak jauh dari situ. Tujuan kami malam ini adalah ke Mustafa Center. Kami turun di stasiun Farrer Park lalu berjalan kaki ke sana. Sebelum ke Mustafa Center kami yang mulai kelaparan berhenti untuk makan dulu di sebuah restoran masakan India yang terkenal dengan nasi briyaninya yang enak. Maaf saya lupa namanya. Lili bilang, setiap kali ke Singapura dan mampir ke Mustafa Center bersama keluarganya, mereka tak pernah melewatkan makan nasi briyani di sini. Lokasinya sangat dekat dengan Mustafa, persis di pojokan jalan sebelum berbelok menuju Mustafa. Sayangnya lagi, saya tak sempat mengambil foto makanannya. Porsi nasi briyaninya lumayan besar, jadi kami hanya pesan dua porsi untuk dimakan bertiga. Kami memesan nasi briyani dengan lauk ayam dan tambahan ikan yang rasanya enak. Selesai makan kami segera berjalan kaki menuju Mustafa Center.

Sampai sana kami segera berpisah dan janjian untuk bertemu di pintu depan sekitar jam 10. Lili segera menghilang untuk membeli kosmetik yang diperlukannya sedang saya dan Metta menuju deretan rak-rak parfum. Saya segera mencari parfum buatan Jerman favorite saya yang susah saya dapatkan di Bali, untuk oleh-oleh buat suami. Sejak dulu saya memang lebih menyukai parfum yang maskulin.

Setelah itu, saya dan Metta naik ke lantai dua ke bagian makanan. Mustafa malam itu penuh sesak oleh pengunjung. Jarak antara rak yang berdekatan membuat agak susah bergerak apabila berpapasan dengan pengunjung lain yang juga menenteng keranjang belanjaan. Saya dan Metta membeli beberapa bungkus coklat untuk dibawa pulang, lagi :P. Padahal kemarin kan di Malaysia kami juga membeli coklat. Metta malah curiga sebagian dari coklat-coklat itu meleleh akibat kepanasan sepanjang perjalanan kami hahaha.

Lalu kami turun ke bagian elektronik untuk mencari pesanan suami yang minta dibelikan speaker dock untuk Iphone-nya. Tapi setelah melihat-lihat tak ada yang sreg di hati. Jadi kami kembali ke atas sebab jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Karena buka 24 jam, pengunjung bukannya makin berkurang, malah makin malam makin rame. Kami lalu membayar belanjaan dan kemudian menunggu Lili selesai belanja. Saya baru ingat bahwa saya lupa menghidupkan bb saya yang kehabisan baterai dan tak sempat mengisi baterainya tadi di apartemen. Dengan baterai portabel dan sisa pulsa yang seadanya saya sms suami. Saya memang sengaja tidak membeli nomor dari provider seluler di Singapura karena menurut saya rugi juga menghabiskan belasan SGD padahal saya hanya 2 hari di sini.  Saya bilang pada suami bahwa saya sudah berada di Singapura dari jam 7-an tadi, pulsa saya terbatas bla..bla..bla. Tak berapa lama suami saya telepon dan langsung ngomel-ngomel. Dia marah saking kuatirnya tak mendengar kabar dari saya sejak siang tadi. Apalagi tadi siang saya sempat cerita bahwa kami naik bus busuk, tambah kawatirlah ia. Tak habis-habisnya ia mengomel dan saya sibuk berulang kali minta maaf padanya hahaha…maaf ya darling..it’s so sweet of you to worry about me :p.. Kata Lili dan Metta sambil ketawa, ‘Makanya datang-datang bukannya nelpon suami malah sibuk mandi. Disuruh beli kartu telpon ga mau, maunya menghemat tapi diomelin jadinya’ hahaha…

Clarke Quay di malam hari
Dari Mustafa Center kami memutuskan untuk menikmati keriaan malam minggu di Clarke Quay yang tak jauh dari sana, hanya melewati dua stasiun MRT saja dari Farrer Park. Clarke Quay sangat ramai di malam minggu itu. Restoran dan café dipenuhi pengunjung. Karena sudah makan kami  hanya berjalan-jalan berkeliling, berhenti sejenak untuk istirahat karena kaki pegal lalu mampir menikmati minuman dingin di café es krim Haagen Dazs. Mengobrol dan menertawakan pengalaman tadi siang, berfoto-foto, mempostingnya di akun facebook J, menghabiskan minuman lalu pulang dengan taksi ke apartemen.

The 3 of us di Haagen Dazs cafe Clarke Quay

Keesokan harinya kami memutuskan untuk pergi ke Sentosa Island. Tiba di stasiun Harbour Front kami tak langsung menuju Sentosa. Karena tak sempat sarapan pagi kami mampir di foudcourt yang ada di mall Vivo City. Kali ini saya memilih untuk menikmati semangkuk Yong Tau Fu yang menghangatkan perut. Kelar sarapan kesiangan kami segera beranjak pergi.

Yong Tau Fu my fave :)

Kami naik Sentosa Express dari lantai paling atas mall. Tujuan kami ke Universal Studio Singapore (USS). Tapi kami tak sampai masuk ke dalam untuk melihat atraksi yang ada di dalam USS sih, hanya berfoto-foto di luarnya saja. Setelah puas berfoto, kami mampir di toko suvenirnya untuk membeli oleh-oleh bagi orang-orang tersayang kami. Setelah itu kami mampir ke toko coklat Hershey’s..berfoto-foto di depan toko..dan tentunya membeli coklat lagi :P… Lelah dan kepanasan, kami mampir untuk minum es kopi di salah satu coffeeshop di sana.

The 3 of us di USS


Metta di USS



Lili di USS

Di depan toko coklat Hershey's di USS

Dari Sentosa kami melanjutkan jalan-jalan ke Bugis Junction. Saya masih harus membeli pesanan suami yang tak saya temukan kemarin di Mustafa Center. Di gerai salah satu merek elektronik ternama akhirnya saya mendapatkan speaker dock yang sesuai dengan keinginan suami. Kami berhenti untuk menikmati es krim di sebuah kedai es krim di sana setelahnya bukan karena ingin makan es krim tapi supaya bisa duduk saja karena kaki kami sudah kelelahan berjalan. Sebenarnya dari kami bertiga, Mettalah yang paling hebat bertahan memakai sandal berhak cukup tinggi sejak hari pertama hingga hari ini tanpa mengeluh seperti saya dan Lili. Saya apalagi, sejak tak bekerja di lingkungan yang formal, jarang sekali memakai sepatu berhak tinggi, namun hari ini saya memakai wedges yang cukup tinggi dan sangat tersiksa karenanya. Lili yang memakai sandal hijau yang dibelinya waktu di KL tak kalah tersiksanya sebab sandal yang lumayan tinggi itu selain membuat capek juga membuat lecet. Perempuan memang ya, supaya kelihatan oke mau aja menderita hahaha..

Kami berkeliling melihat berbagai barang yang ditawarkan di sana. Kami berhenti untuk melihat-lihat produk kosmetik yang sedang sale saat itu. Lili membeli beberapa macam kosmetik keperluannya di sana.  Lalu kami berpindah ke mall di sebelahnya. Lili masih belum mendapatkan oleh-oleh pesanan anak-anaknya. Kami berkeliling untuk mencari sepatu olahraga pesanan anaknya tapi tak kunjung menemukan yang cocok. Untuk anak perempuan satu-satunya, Lili membelikan berbagai pernik Hello Kitty yang girly dan lucu-lucu yang kami temukan di salah satu sudut mall itu. Selesai belanja kami segera turun ke lantai basement untuk makan siang di foodcourt yang ada di situ.

Sambil makan kami membahas akan kemana kami menghabiskan sisa hari ini. Karena Lili belum mendapatkan sepatu olahraga pesanan anaknya, Metta menyarankan untuk mencarinya di kawasan Orchard Road. Akhirnya dengan menggunakan taksi, kami pergi ke Orchard Road dan memilih untuk berhrnti di Takashimaya. Mulailah kami berkeliling mencari toko sepatu olahraga. Metta ingat pernah membeli sepatu untuk anaknya di sini, tapi tak yakin letak tokonya. Walaupun sudah bertanya pada beberapa orang termasuk pegawai mall, kami tak menemukannya juga. Maklumlah mall ini memang lumayan besar. Karena capek, di sebuah lantai yang salah satu sudutnya terdapat air mancur, kami duduk di pinggirnya sambil melemaskan otot kaki yang kaku saking pegalnya berjalan, sambil menikmati dorayaki yang masih hangat. Setelah merasa cukup istirahat, kami jalan lagi melanjutkan pencarian. Rupanya kaki kami memang tak bisa di ajak kompromi jadi kami lagi-lagi kami berhenti untuk duduk, kali ini di bangku beton yang banyak terdapat di sepanjang Orchard Road. Betul-betul menderita berjalan dengan kaki yang cenut-cenut belum lagi sambil menenteng barang belanjaan. Tapi seperti biasa kami malah menertawakan ‘kelakuan’ kami ini. Sedikit menghibur walau tak mengurangi rasa cenut-cenut di kaki.

‘Perjalanan’ kami belum selesai loh, masih nekad jalan kaki ke sebuah toko yang jaraknya lumayan kalau ditempuh dengan kaki yang super pegal ini. Sesampai di sana, selain berburu pernik-pernik lucu, saya dan Lili yang tak kuat menahan siksaan si hak tinggi, akhirnya membeli sandal dan langsung memakainya setelah membayar. Wuaah..lega rasanya, seolah jari-jari kaki kami langsung bersorak “merdeka euy!” hahaha…. Hanya Metta yang bertahan dengan sandal berhak tingginya karena sudah terbiasa, hebat euy!

Habis itu, kami masih berkeliling mall di seputaran Orchard Road dan berakhir di Lucky Plaza untuk membeli oleh-oleh. Tadinya kami hendak makan malam juga di sana, tapi karena sudah kemalaman, restoran di sana sudah pada tutup, begitu juga sebagian besar toko. Untungnya ada beberapa toko souvenir yang masih buka. Kami membeli beragam magnet kulkas yang lucu-lucu. Saya sendiri membeli magnet lucu warna-warni yang bisa dipasangi foto bagi para keponakan saya dan beberapa t-shirt.
Dari sana, dengan taksi kami pergi ke Newton Circus untuk makan malam. Lalu pulang ke apartemen untuk packing sebab besok kami akan kembali ke Indonesia.

Paginya, Lili yang berangkat duluan ke Changi sebab pesawatnya berangkat lebih cepat dari kami. Sejaman kemudian, saya dan Metta baru berangkat ke Changi. Rupanya kami masih sempat bertemu di sana. Dan kami masih menyempatkan diri untuk berkeliling di pertokoan di dalam bandara untuk belanja hahaha… well, saya harus beli oleh-oleh buat ibu saya, masak cuma suami yang dapat oleh-oleh..:P..

Berpose di Changi 

Lalu kami saling mengucapkan kata perpisahan sambil berpelukan kemudian berjalan menuju gate kami masing-masing..so long, gals..
It was such an unforgetable trip..we should do it  more often (maunyaaa…hahaha..)
Looking forward to our next trip to Lombok..can’t wait!

~The End~

Saturday, November 24, 2012

Vacation with BFF~Part 2 (Melaka Trip 27-28 April 2012)


Dengan taksi kami berangkat ke terminal bus antar kota Bandar Tasik Selatan. Jaraknya lumayan jauh, kurang lebih 45 menit dari hotel. Supir taksi kami kali ini adalah seorang laki-laki separuh baya keturunan Cina. Orangnya ramah. Dari dia kami tahu bahwa memang benar ada oknum supir taksi yang suka memutar-mutarkan turis demi menambah jumlah ringgit di penunjuk harga otomatis dalam taksi. Sampai suatu saat sepasang turis penumpang taksi asal Eropa melaporkan supir taksi yang menipu mereka dan direspon baik oleh kepolisian setempat. Dan supir itu akhirnya tertangkap dan beritanya sempat masuk koran lokal. Lain kali kalau naik taksi di KL musti bertanya-tanya dulu berapa jauh jaraknya, kira-kira berapa ongkos taksinya, supaya tak tertipu lagi seperti kami kemarin.
Mejeng di lobi Bandar Tasik Selatan (BTS)

Ngakak ngeliat barang bawaan

Sesampai di Bandar Tasik Selatan kami segera menuju loket-loket yang berjejer di lobi terminal. Tinggal membaca papan petunjuk yang terdapat di loket-loket itu kami segera menemukan loket yang menjual tiket ke Melaka. Saya tak ingat berapa harga tiket dari KL ke Melaka, tapi seingat saya sih tidak mahal. Setelah membeli tiket sang petugas memberi tahu kami untuk menunggu di platform yang tercantum dalam tiket. Di terminal ini disediakan pula kereta dorong seperti yang biasa ada di bandara jadi kami memuat barang-barang kami yang segambreng itu ke atasnya dan segera mengikuti petunjuk untuk menuju platform. Rupanya kami harus menggunakan lift untuk turun ke lantai bawah. Sampai di bawah ada beberapa pintu dengan petunjuk nomor platform sehingga calon penumpang bus seperti kami dengan mudah mencarinya. Sampai di sana kami masih harus menunggu karena bus kami belum datang. Ruang tunggunya bersih, sejuk ber-AC. Di pojok ruangan ada kios kecil penjual makanan ringan dan minuman.

Menunggu bus di platform

Berpose di bus menuju Melaka

Lumayan lama kami menunggu hingga akhirnya bus kami tiba. Setelah memuat barang dalam bagasi kami segera naik ke dalam bus. Saya duduk berdua dengan Metta sedangkan Lili duduk sendirian di deretan kursi di samping kami. Busnya tak terlalu jeleklah tapi lumayanlah walau tak bisa dibilang bagus. Kalau di Indonesia seperti bus antarkota pada umumnya. Tak banyak yang bisa dilihat sepanjang perjalanan kurang lebih 2.5 jam Ke Melaka. Jadi kami menghabiskan waktu dengan mengobrol dan tertawa-tawa saja. Sisanya kami tertidur dengan sukses hingga hampir tiba di Melaka.
Ketiduran :D...

Tiba di terminal bus antar kota Melaka kami sungguh kerepotan dengan barang kami yang bejibun dan berat itu. Lili akhirnya membeli sebuah kereta dorong yang bisa dilipat untuk memuat sebagian barang-barang kami. Terheran-heran melihat bawaan kami yang banyak itu sampai dikira kami ini adalah TKW yang hendak pulang kampung ke Indonesia. Kami ngakak tak henti-henti menertawakannya.
Bagasi taksi yang terbuka karena kepenuhan :D

Di dekat pintu keluar ada sebuah loket tempat kami menyewa taksi yang akan membawa kami ke hotel. Setelah membayar ongkos, sang supir taksi yang ditunjuk petugas loket segera menggiring kami menuju parkiran. Lagi-lagi sang sopir terheran-heran mengapa barang kami begitu banyak dan kami hanya menjawabnya dengan ketawa ngakak. Betul saja, walau sebagian barang kami taruh di kursi depan taksi tetap saja bagasi belakang taksi tak bisa ditutup karena kepenuhan hahaha..

Perjalanan ke hotel hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit. Sesampai di sana, kami segera menuju konter reception untuk check in. Hotel tempat kami menginap ini, Best Western Wana  Riverside Hotel, rupanya hotel yang belum terlalu lama dibuka. Lobinya terlihat garing tanpa hiasan yang menarik hanya terlihat beberapa sofa, namun resepsionisnya cukup efektif dan helpful.

Dari tempat kami berdiri di konter reception di sebelah kiri kami terlihat Sungai Melaka. Sang resepsionis menawarkan apa kami mau ikut tur menyusuri sungai. Kami putuskan untuk ikut tur besok pagi saja. Ia lalu mendaftarkan kami untuk ikut cruise besok pukul 8 pagi. Tak mahal harga tiketnya, masing-masing kami hanya membayar RM 14 saja. Setelah membayar dan mendapat kunci kamar hotel kami segera naik. Setelah istirahat sejenak kami segera turun kembali untuk berjalan-jalan.
Sungai Melaka di belakang hotel

Kami langsung menuju ke bagian belakang hotel. Hotel tempat kami menginap ini memang berada di pinggir Sungai Melaka. Kami segera sibuk berfoto-foto di sana. Suasana sore itu sepi, hanya beberapa  orang saja yang terlihat saat kami menyusuri jalan kecil di pinggiran sungai itu. Walau sepanjang jalan itu terdapat berderet-deret rumah, hostel dan restoran, tapi kami jarang berpapasan dengan orang lain. Untungnya ada cukup banyak tanda penunjuk jalan sehingga kami tak terlalu bingung. Di beberapa tempat kami berhenti untuk foto-foto.
JJS di sepanjang sungai

Mejeng di Sungai Melaka

Kira-kira sekitar 20 menitan berjalan baru kami menemukan Stadhuys , landmark kota Melaka. Bangunan berwarna merah ini letaknya berdekatan dengan sebuah gereja. Saya tak jadi mengambil foto Stadhuys sebab banyak sekali pedagang-pedagang souvenir yang mangkal di depannya belum lagi bus-bus turis yang parkir di sana yang menutupi keindahan bangunan tua ini. Jadi kami hanya melewatinya, berbelok ke kanan persis di depannya, menyeberangi jembatan menuju ke Jongker Street, pusat keramaian di Melaka ini.

Di seberang jembatan ada sebuah kedai es cendol durian, persis di ujung jalan. Saya pernah membaca bahwa kalau sedang di sini harus mencicipi cendol durian yang terkenal enak. Kepanasan dan haus karena berjalan kaki dari hotel, kami memutuskan untuk mampir untuk melepas lelah sejenak. Kami segera masuk ke kedai es yang bernama Lao Qian itu untuk memesan es cendol duriannya. Tak hanya menjual es cendol, kedai ini juga menjual berbagai macam kue semacam nastar yang selain berisi selai nanas ada juga yang berisi kacang-kacangan, lotus dan lainnya. Harga es cendolnya RM 5.80, sedang kue-kuenya berkisar dari RM 1.30. Rasa es cendolnya enak, duriannya sangat terasa, porsinya pun cukup besar. Kuenya pun rasanya lumayan enak.
Es Cendol Durian, Nastar dan Pia Lotus

Langit sudah mulai gelap namun cuaca sangat cerah. Selepas menikmati es cendol dan kue-kue, kami kemudian berjalan-jalan di kawasan heritage ini. Sepanjang jalan berisi bangunan tua yang masih terawat bagus. Untungnya kami datang pada hari Jum’at. Sebab menurut informasi tempat ini hanya ramai di akhir pekan saja. Memang malam itu suasana cukup ramai. Sepanjang Jongker Walk banyak pedagang souvenir yang menggelar dagangannya di meja-meja yang diletakkan di pinggir jalan. Sepanjang jalan terdapat banyak toko suvenir dan toko antik juga restoran-restoran. Kami mampir di salah satu toko souvenir yang cukup besar. Beragam souvenir yang lucu-lucu terdapat di sini dan harganyapun terjangkau. Di sebuah toko hampir di ujung jalan kami baru membeli beberapa macam magnet kulkas untuk koleksi dan oleh-oleh. Sesampai di ujung jalan, kami memutuskan untuk mencari restoran untuk kami makan malam. Walau di kawasan ini banyak restoran tapi kami tak menemukan restoran yang sreg di hati karena lebih banyak restoran Cina di sini yang tentunya sangat diragukan kehalalannya.

Kami lalu memanggil sebuah taksi yang parkir tak jauh dari ujung jalan itu dan meminta supir taksi itu untuk membawa kami ke sebuah restoran makanan lokal dan yang penting halal. Sepanjang jalan yang kami lewati bisa dibilang sepi dan gelap. Rupanya benar, pusat keramaian Melaka ya kawasan Jongker tadi. Lalu sampailah kami di sebuah restoran yang menurut supir taksi kami ini enak dan terkenal. Letaknya di kawasan pertokoan yang sudah gelap karena banyak yang sudah tutup pada malam hari. Restorannya cukup besar dengan meja-meja dan bangku-bangku yang banyak terdapat di depan bangunan restoran. Restoran yang dikelola keluarga muslim keturunan Cina ini, cukup ramai pengunjung malam itu. Kami lalu duduk di meja panjang dan mulai melihat-lihat menu dan memutuskan untuk memesan nasi dengan sayuran dan ikan kuah asam pedas. Selesai makan kami lalu menghubungi hotel untuk mencarikan kami taksi. Cukup lama kami menunggu karena taksinya tak kunjung tiba. Dalam perjalaan pulang ke hotel kami sempat mampir ke sebuah bank dan mini market di kota Melaka yang ternyata juga tak terlalu ramai. Hmmm..kota yang lengang ini membuat kami ingin hari ini segera berlalu supaya kami bisa segera melanjutkan perjalanan kami ke Singapura.  
Restoran tempat kami makan malam

Ikan kuah asam pedas, menu makan malam kami

Keesokan harinya sehabis sarapan kami segera menuju dok kecil di belakang hotel untuk menunggu kapal kami yang akan membawa kami menyusuri Sungai Melaka. Tak lama menunggu, kapal kami tiba. Hanya ada beberapa orang selain kami di atas kapal. Rupanya kapal masih harus menjemput beberapa penumpang lagi. Serombongan penumpang naik dari dok di Museum Maritim, kapal jadi lumayan penuh. Kemudian sang nahkoda memutar kapal dan di mulailah perjalanan kami. Perjalanan menyusuri sungai ini berlangsung kurang lebih 45 menit. Melewati beberapa jembatan antik, bangunan tua yang cantik, perkampungan penduduk, berderet-deret hostel dan café di pinggir sungai. Kami juga melewati kampung tradisional dengan rumah-rumah unik bernama Kampung Morton. Mungkin kalau kami mengikuti pelayaran malam hari, pemandangan tepi sungai ini akan terlihat lebih menarik dengan cahaya lampu-lampu dari bangunan di sana. Di dalam kapal diputar narasi dalam bahasa Inggris yang menceritakan sejarah bangunan, jembatan atau tempat yang sedang dilewati kapal. Lumayan informatif.
Salah satu gedung tua di pinggir Sungai Melaka

Deretan restoran, hostel di pinggiran Sungai Melaka

Museum Maritim dari pinggiran Sungai Melaka

Cafe, Restoran di pinggiran Sungai Melaka

Grafiti di bangunan di pinggiran Sungai Melaka

Kampung Morton

Melaka River Cruise 

Sekitar jam 9.30 kami sudah tiba kembali di hotel. Kami segera naik ke kapal untuk packing. Semalam kami sudah memesan taksi untuk menjemput kami di hotel jam 11 untuk mengantar kami ke terminal bus. Sesampai di terminal, kami berusaha mencari bus yang akan segera berangkat. Rupanya kami telat, busnya baru saja berangkat 10 menit sebelum kami tiba di terminal. Akhirnya kami mencari bus lain yang akan membawa kami ke Singapura. Yang paling dekat jadwal keberangkatannya adalah jam 13.30, ya sudahlah walau harus menunggu 2 jam di terminal tak apalah. Kami bisa makan siang dulu di sana sambil menunggu. Walau tak sebagus dan sebersih Bandar Tasik Selatan tapi terminal ini lumayan kok. Kalau mau sambil menunggu bisa berjalan-jalan dan belanja oleh-oleh di pertokoan yang ada di dalamnya. Restoran cepat saji McDonald juga ada dan restoran ini pula yang jadi pilihan kami untuk makan siang hari itu. 
And soon another road trip is about to begin… J

~Bersambung ke Part 3~

Thursday, November 22, 2012

Vacation with BFF ~ Part 1 (KL Trip 25 – 27 April 2012)

Sebenarnya liburannya sudah lama berlalu, kira-kira hampir 7 bulan lalu, tepatnya 25 – 30 April 2012 lalu. Gara-gara twit kami  beberapa hari lalu membuat saya ingin mengenangnya kembali. Soalnya sampai saat ini, kenangan liburan kami itu masih bisa bikin senyum-senyum bahkan ketawa ngakak..:D

Awalnya saya, Lili, Metta dan Masri bertemu pada November setahun lalu atas undangan Lili untuk menghadiri pernikahan adik bungsunya di Surabaya. Selama 3 hari di Surabaya, walaupun kami sangat menikmatinya tapi rasanya tak cukup waktu untuk bertukar cerita atau sekedar tertawa-tawa. Jadilah sepulang dari Surabaya itu kami memiliki ide untuk pergi liburan bersama.

Ternyata merencanakan liburan bersama itu tak mudah. Menentukan tujuan saja bisa kami bahas berhari-hari di bbm group kami. Apalagi menentukan waktunya. Saya dan Metta yang sama-sama ibu rumah tangga harus menyesuaikan dengan jadwal kegiatan kerja suami-suami kami. Lili yang seorang pengusaha juga harus melihat jadwalnya yang agak longgar. Belum lagi melihat jadwal ujian anak-anak mereka. Ribet deh pokoknya. Kami membahasnya tak bosan-bosan di group bbm kami, selama berbulan-bulan..:D
Akhirnya kami (Saya, Lili dan Metta saja yang berangkat, sedangkan Masri tak bisa ikut karena kesibukan pekerjaannya) sepakat dengan waktu dan tujuannya. Kami akan bertemu di KL, Malaysia pada 25 April. Menginap selama 2 malam di KL, tanggal 27 naik bus ke Melaka dan menginap semalam di sana, keesokan harinya naik bus dari Melaka ke Singapura menginap 2 malam di sana, dan kembali ke kota masing-masing pada tanggal 30 April.

Pembahasan belum berakhir sampai di situ saja. Kami juga harus membahas jadwal kedatangan kami paling tidak jamnya berdekatan satu dengan yang lain. Belum lagi menentukan hotel untuk menginap dan akan kemana saja kami selama di sana.Mulailah kami browsing hotel dan tempat-tempat yang pantas dikunjungi. Kami sepakat bahwa sayalah yang akan melakukan pemesanan kamar hotel. Tapi pada akhirnya, saya membatalkan pemesanan hotel yang di Singapura karena kami akan menginap di apartemen kakak sepupu Metta yang sedang kosong ditinggal sang empunya ke Indonesia. Asyik..mengurangi budget :D
Mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi, kami akhirnya sepakat untuk pergi ke mana nantinya kami ingin pergi saja tak terikat oleh jadwal tertentu.

Tibalah pada hari keberangkatan. Seperti biasa kami berkomunikasi melalui bbm. Sepagian kami tak bisa menghubungi Lili. Dialah yang pertama akan tiba di KL dan dia akan duluan check in di hotel karena terlalu lama baginya untuk menunggu saya yang datang dengan flight 3 jam setelahnya. Cerita punya cerita, rupanya hari itu Lili hampir saja tak jadi berangkat karena urusan pekerjaan, untungnya akhirnya masalah teratasi jadi ia akhirnya bisa berangkat. Metta tiba kurang lebih sejam setelah saya, jadi saya menunggunya di LCCT untuk kemudian sama-sama naik shuttle bus ke hotel. Oh iya, di KL kami menginap di Hotel Bintang Warisan di jalan Bukit Bintang. Hotel tua yang masih lumayan bagus kondisinya ini berada di jalan utama kawasan Bukit Bintang. Kami memesan kamar untuk 3 orang, dengan sebuah double bed dan single bed dalam kamar dengan harga yang terjangkau.

Petronas Twin Towers dari kejauhan
Sesampai di hotel setelah ngobrol sebentar kami segera keluar untuk makan. Tak jauh dari hotel, ada sebuah restoran yang menjual Nasi Hainan yang menurut Lili enak dan yang penting HALAL. Saya lupa nama restorannya kalau tidak salah ingat namanya Yong Mee. Letaknya di sebelah kanan hotel melewati beberapa toko saja. Tak sampai 5 menit jalan kaki saja dari hotel. Rupanya Lili sudah makan duluan tadi, jadilah saya dan Metta yang makan Nasi Hainan, Lili kalau tidak salah ingat memesan Salad Mangga. Saya agak menyesal kenapa tak mencicipi salad mangganya waktu pertama ke restoran ini, sebab pada kedatangan kedua kami ke sana saya baru mencicipinya dan rasanya ternyata enak sekali! Crunchy dan segar. Ah, jadi ngiler kepingin mencicipinya lagi. Selesai makan kami langsung pulang ke hotel dan beristirahat supaya besok bisa fresh lagi dan siap untuk jalan-jalan.

Metta & Lili di Stasiun Bukit Bintang
Di dalam monorail narsis bertiga :D

Jalan kaki menuju ke Twin Towers
Menu makan siang kami

Keesokan paginya kami sarapan di hotel. Setelah itu kami berniat jalan-jalan ke Petronas Twin Towers.  Jadilah kami ke stasiun monorail tak jauh dari hotel. Rupanya stasiun monorail tempat kami turun tak bisa dibilang dekat dengan menara Petronas. Akhirnya kami jalan kaki selama kurang lebih 15 menit di cuaca yang cukup panas. Untungnya sepanjang jalan ada banyak pepohonan yang cukup rindang. Sesampai di sana padahal kami malah hanya jalan-jalan di Mall Suria KLCC Sdn Bhd, mall yang integrated dengan Twin Towers,  soalnya terlalu terik untuk berfoto-foto di siang itu. Metta sibuk mengantri di salah satu gerai penyedia jasa seluler untuk membeli paket bb. Saya dan Lili sekedar iseng jalan-jalan keliling mall. Setelah urusan Metta selesai kami kemudian makan siang di foodcourt mall dan segera turun kembali, mampir sebentar ke sebuah kedai coklat membeli beberapa jenis kue kering coklat untuk kami makan sambil jalan.

Pabrik Coklat

Berpose di depan beraneka macam coklat

Mari belanja...ini enak loh..:)

Di depan mall kami mengantri taksi, rencananya kami hendak pergi ke sebuah pabrik coklat lokal. Menurut Metta rasa coklatnya lumayan. Beberapa bulan sebelumnya ia dioleh-olehi anak sulungnya sepulang dari study tour ke Malaysia yang sempat mampir ke pabrik coklat ini. Jaraknya tak terlalu jauh pula. Sesampai di sana parkiran pabrik coklat ini dipenuhi mobil dan bus turis. Benar saja, saat kami masuk kami jadi sedikit berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Bangunan tua yang disulap jadi toko yang menjual produk coklat itu tak terlalu besar. Namun coklat yang dijual beraneka macam dan bentuk. Dari coklat bubuk, coklat berisi kacang-kacangan dan berbagai macam buah yang dikemas cantik dan menarik. Kami segera sibuk memilih-milih coklat. Saya memilih membeli dark coklat yang dikemas dalam kaleng yang unik, sekotak coklat rasa cabe dan sekotak coklat berisi mangga oleh-oleh untuk suami saya yang penggemar coklat. Setelah membayar di kasir kami segera berlalu dari sana.

Pada supir taksi keturunan India itu saya yang duduk di depan mengatakan kemana tujuan kami. Menurut brosur yang kami baca jaraknya tak terlalu jauh dari sana. Kalau naik taksi kurang lebih RM 10 saja. Tapi karena tak kunjung sampai juga, kami mulai kasak-kusuk. Notifikasi bbm saya tiba-tiba berbunyi, rupanya Lili bbm saya, “kayaknya kita diputer-puterin”. Saya langsung menoleh ke belakang, kami bertiga hanya saling berpandangan dengan hati kesal. Lalu tiba-tiba kepala saya pusing, perut rasanya mual ingin muntah, tengkuk saya rasanya berat. Saya bilang pada dua sahabat saya itu bahwa saya pusing dan mual dan sepertinya harus mengendurkan lilitan jilbab saya supaya tak terlalu kencang. Oh iya, FYI saya memang baru memakai jilbab sejak Januari lalu, jadi maklumlah masih gagap memakainya. Tadi pagi di hotel, Metta dan Lililah yang membantu saya memakai jilbab. Metta meminta saya untuk mengikat rambut agak tinggi supaya terlihat bagus. Rupanya karena tak terbiasa mengikat rambut dengan kencang dan tinggi begitu, ditambah lilitan kerudung yang cukup kencang membuat saya menjadi mual dan pusing. Tapi dasar kami, kami jadikan insiden diputar-putar supir taksi, jilbab yang yang membuat saya pusing dan mual serta hari yang panas menjadi bahan candaan. Alhasil kami menghibur diri dengan menertawakan kesialan kami hari ini (Setelah kami pulang ke Indonesia kami menyebut insiden ini ‘tragedi jilbab’ hahaha…).

Sesampai di Central Market kami akhirnya membayar taksi itu lebih dari RM 30, menyebalkan! Sudah gitu, Central Market yang menjual berbagai macam kerajinan dan barang antic tak terlalu membuat kami terhibur karena tak terlalu menarik. Karena saya masih merasa pusing dan mual, kami naik ke lantai dua untuk minum teh panas dan duduk sejenak. Setelah itu kembali turun ke lantai dasar untuk melihat-lihat sekeliling pasar. Metta dan Lili sibuk memilih- milih dan membeli magnet kulkas untuk oleh-oleh. Magnet kulkasnya lucu-lucu, banyak ragamnya dan tentunya murah meriah, kalau tidak salah ingat dengan RM 10 dapat 6 buah magnet .  Saya sendiri tak berniat membeli apa-apa tapi akhirnya tertarik membeli sebuah rok yang lucu. Hanya sekitar sejaman kami di Central Market, setelah berfoto di pintu masuknya kami segera mencegat taksi untuk pulang ke hotel.

Setelah beristirahat sejenak, kami yang tadi tak jadi foto-foto di  Twin Towers berencana untuk balik lagi ke sana sore ini saat matahari lebih bersahabat. Dari depan hotel kami mencegat taksi untuk menuju ke sana. Lalu lintas sore yang lebih padat membuat perjalanan kami lebih lama. Saat taksi melewati depan Twin Towers, lalu lintas yang padat membuat taksi berjalan pelan dan saya jadi punya banyak kesempatan mengambil beberapa foto Twin Towers dari dalam taksi. Tentunya sambil tak lupa mengambil foto dua sahabat saya yang sedang duduk manis di bagian belakang taksi J

Petronas Twin Towers diambil dari dalam taksi

Senyum dulu dooong...

Setelah sampai kami segera menuju ke bagian belakang tempat biasanya pengunjung berpose dengan Twin Towers sebagai latar belakang. Mulailah kami sibuk berpose. Langit lumayan mendung dan sebentar lagi gelap. Kami kemudian meminta tolong seorang pengunjung lokal yang sedang jalan-jalan di sana untuk mengambil foto kami bertiga. Tak terlalu tertarik untuk naik ke menaranya tapi sah sudah ke Malaysia kalau sudah berfoto di depan Twin Towers J..

Bertiga mejeng di depan Twin Towers

Langit cepat sekali gelap karena mendung, kami segera masuk lagi ke dalam mall. Masih terlalu awal untuk makan malam. Jadi saya mengajak Metta dan Lili untuk menemani saya ke sebuah toko buku di lantai 4 mall itu untuk membeli buku memasak seorang Chef fenomenal oleh-oleh untuk suami saya. Tadi siang sebenarnya kami sempat mampir ke sini tapi saya belum bisa memutuskan hendak membeli buku apa sebab ada beberapa pilihan judul yang menarik. Akhirnya saya membiarkan suami saya yang memilih buku apa yang lebih disukainya. Dan malam ini saya hanya tinggal mengambilnya dari rak display lalu mengantri di kasir untuk membayarnya saja.

Beres urusan di toko buku, perut sudah mulai keroncongan, kami segera menuju foodcourt yang tadi siang kami datangi. Siang tadi kami lebih memilih untuk menikmati masakan lokal, malam ini kami putuskan untuk menikmati masakan Jepang. Seperti siang tadi foodcourt ini ramai pengunjung yang hendak makan malam. Tapi walau rame kami tak kesulitan mendapat meja. Selesai makan kami langsung balik ke hotel untuk istirahat. Kami harus mulai packing lagi sebab besok kami sudah harus meninggalkan KL untuk berangkat ke Melaka.

Breakfast di hotel

Hari terakhir di KL. Kami sarapan pagi di hotel seperti biasa.  Selesai sarapan kami segera meninggalkan hotel dengan berjalan kaki. Tujuan kami berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di dekat-dekat hotel saja. Lili ingin membeli tas koper kecil yang bisa dibawa ke cabin. Metta ingin menukar uang di money changer. Saya berencana ingin membeli sunglasses. Sunglasses saya terjatuh tanpa sadar saat saya sibuk mengurusi bagasi di bandara Ngurah Rai waktu berangkat tempo hari. Sudah berusaha menelusuri jejak sejak awal datang di ruang check in bandara serta bertanya pada petugas tapi saya tetap tak menemukannya. Nasib!
Enaknya menginap di kawasan ini adalah karena daerah ini merupakan salah satu pusat belanja terkenal di KL. Berderet-deret toko dan mall ada di sepanjang jalan ini. Juga restoran, mini market serta tempat pijat pelepas penat sehabis jalan banyak terdapat di sana.

Pusat pertokoan yang paling dekat hotellah yang pertama kami datangi. Karena baru pukul 9 pagi, masih banyak toko yang tutup. Tapi kami masih tetap masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Setelah keliling di beberapa toko tas akhirnya Lili menemukan koper yang disukainya. Juga sebuah sandal berwarna hijau, warna favoritnya. Setelah menukar uang di money changer depan pertokoan itu, kami segera berjalan menuju deretan pertokoan di dekat-dekat situ. Berhenti di beberapa toko melihat-lihat barang-barang khas perempuan kami membeli beberapa pernak-pernik yang menarik untuk kami masing-masing. Saya mendapat sunglasses yang saya inginkan, saya dan Metta juga membeli jam tangan lucu di salah satu toko. Metta juga mendapat wedges yang disukainya sebagai pengganti wedgesnya yang rusak. Di salah satu mall tempat kami belanja, dengan menunjukkan paspor kami bisa mendapat potongan harga khusus. Lumayanlah J. Perjalanan kembali ke hotel, kami masih mampir di sebuah toko pakaian sebab Lili ingin membeli T-Shirt bertuliskan I Love KL atau I love MY untuk oleh-oleh bagi suami tercintanya.

Si ayam Hainan

Hari itu kami kembali makan siang di restoran Nasi Hainan halal dekat hotel. Nasi Hainannya lumayan enak memang tapi yang juara jelas salad mangganya. Saya sampai berjanji dalam hati, jika kembali ke KL lagi dengan suami, saya akan mengajaknya mencicipi salad mangga di sini hehehe..


Mejeng di jl. Bukit Bintang, last day di KL

Saatnya kembali ke hotel untuk packing dan siap-siap berangkat menuju Bandar Tasik Selatan, terminal bus antar kota untuk mencari bus yang akan membawa kami ke kota kecil Melaka.

~bersambung ke Part 2~

Friday, November 16, 2012

Another Day in Paradise ~ Part 2


Sepeninggal mbak Donna, kami tak segera pulang. Walau libur suami saya tak lupa mengecek pekerjaannya sebentar dan berbincang dengan beberapa staffnya. Karena sudah masuk waktu Ashar, kami kemudian menunaikan sholat Ashar di tempat kerja suami. Kira-kira setengah jam setelah berpisah, mbak Donna menghubungi saya lewat bbm, mengabarkan bahwa mas Feby mengajak kami berdua untuk makan malam di sebuah restoran di kawasan Tanjung Benoa, Nusadua. Kami sepakat untuk bertemu di sana sekitar pukul 7 malam.

Karena tanggung untuk pulang ke rumah, saya dan suami akhirnya sepakat untuk pijat saja di spa langganan kami. Lumayanlah, sejam pijat cukup membuat segar lagi rasanya. Suami saya sangat membutuhkannya setelah hampir sebulan tak libur karena kesibukan pekerjaannya. Segera kami meluncur ke Sunset Road. Sampai di spa langganan saya melihat parkiran dipenuhi banyak kendaraan, wah cukup ramai ternyata sore ini dan benar saja, setelah mendatangi konter penerima tamu, kami rupanya baru dapat tempat pada jam 6.30. Untungnya di sepanjang jalan yang sama, terdapat berderet-deret spa yang bisa kami pilih sebagai alternatif. Kami akhirnya menuju spa yang letaknya persis di sebelah spa langganan. Alhamdulilah walaupun cukup ramai situasi saat itu kami masih kebagian tempat. Sepuluh menit kemudian, terapis kami mempersilakan kami mengikuti mereka ke bagian belakang untuk memulai treatment. Sejam terasa sangat cepat sebab biasanya kami memilih pijat yang berdurasi 2 jam. Setelah selesai pijat kami segera mandi membersihkan sisa-sisa minyak pijat yang melekat di badan. Efek pijat dan mandi rupanya sangat cepat terasa, badan terasa ringan dan tenaga terasa pulih kembali. Merasa bugar lagi, kami berdua segera meluncur lagi ke tempat janjian kami di Tanjung Benoa.

Tak sampai setengah jam kami telah tiba di Laota. Restoran yang tak terlalu besar ini hanya terisi 3 meja dengan tamu yang sedang makan. Sisanya masih kosong. Kami memilih untuk duduk di meja pojok dekat kasir. Karena mbak Donna dan mas Feby belum tiba, kami memilih untuk memesan minuman lebih dahulu. Saya dan suami kompak  memesan teh Oolong. Tadinya kami pikir teh ini disajikan dalam cangkir atau gelas, rupanya disajikan dalam teko keramik yang lumayan besar ukurannya. Dan kami masing-masing memesan 1 teko..kebayang nanti harus menghabiskannya hehehe.
Teh Oolong


Bawaan kalau habis pijat memang suka lapar ya ternyata. Sambil menunggu mas Feby dan mbak Donna, suami saya lalu memesan 2 buah cakwe untuk mengganjal perut sementara. Cakwenya enak, renyah dan tidak terlalu asin. Kami berdua menikmati cakwe renyah ini sambil berbincang santai dan menonton TV yang tersedia di restoran. Tak lama kemudian, mas Feby dan mbak Donna tiba di restoran. Rupanya mas Feby mengundang pula staf-stafnya yang bertugas bersamanya selama di sini. Kami lalu pindah ke meja panjang yang telah dipesan untuk rombongan kami. Sementara itu, tamu-tamu lain mulai berdatangan dan restoran ini semarak dengan suara percakapan dari meja-meja tamu yang terisi.
Si Cakwe yang renyah


Terakhir kami berdua makan di Laota kira-kira setahun yang lalu. Entah kenapa waktu terakhir kali makan di sana kami sepakat buburnya tidak seenak biasa makanya kami lama tak ke sana. Oh iya, kami makan terakhir bukan di Laota Tanjung Benoa tapi di Laota yang di Tuban. Restoran yang selalu ramai ini buka 24 jam.

Saatnya memesan makanan…saya dan suami sepakat memesan semangkok Bubur Seafood kesukaan kami dan Udang Goreng Mayonaisse. Semangkok bubur cukuplah untuk kami bagi berdua. Suami saya juga memesan Telur Pitan, telur yang berwarna hitam tapi bening dan berasa asin, yang enak sekali apabila dimakan bersama bubur.
Bubur Seafood yang seafoodnya tenggelam dalam bubur :D

Sambal Cocolnya

Telur Pitan

Udang Goreng Mayo


Yang lain memesan berbagai macam bubur yang ada di menu. Ada Bubur Pelangi, Bubur Kepiting, Bubur Daging Iris, Bubur Belut. Kami saling berbagi untuk saling mencicipi makanan yang kami pesan. Ada juga yang memesan hidangan Ikan Goreng, Ikan Kukus juga Belut Bumbu Bawang Putih yang menurut kami terlalu dominan rasa bawang putihnya. Daaaan, Teh Oolong kami juga akhirnya habis diminum ramai-ramai..hehehe..
Bubur Kepiting


Malam yang seru.. nice people, good conversation, good food…Alhamdulillah. Tak terasa sudah jam 9 malam. Saking asyiknya makan dan ngobrol kami bahkan tak sadar kalau tadi sempat hujan cukup deras di luar. Untungnya hanya sebentar.

Saatnya pulang. Kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Mas Feby dan mbak Donna dan berjanji akan bertemu lagi pada kunjungan mereka berikutnya bulan depan.


Home sweet home, we’re coming to you….

~The End~